Anies Baswedan Bela Dino Patti Djalal di Tengah Polemik Perjalanan Dinas Presiden

- Selasa, 02 Juni 2026 | 02:50 WIB
Anies Baswedan Bela Dino Patti Djalal di Tengah Polemik Perjalanan Dinas Presiden
PARADAPOS.COM - Polemik mengenai efisiensi perjalanan dinas Presiden Prabowo Subianto memanas setelah mantan diplomat senior Dino Patti Djalal memberikan sejumlah saran kritis. Di tengah perdebatan yang melibatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan angkat bicara membela Dino. Melalui unggahan di akun media sosialnya pada Selasa (2/6), Anies menegaskan bahwa Dino Patti Djalal bukanlah diplomat karbitan, melainkan figur dengan rekam jejak panjang di dunia diplomasi Indonesia.

Kritik Dino dan Respons Pemerintah

Semua bermula ketika Dino Patti Djalal melontarkan usulan agar Presiden Prabowo mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri. Menurut Dino, langkah ini diperlukan demi meningkatkan efisiensi anggaran serta efektivitas kerja pemerintahan di dalam negeri. Pernyataan itu tak pelak menuai reaksi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kemudian memberikan tanggapan melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, Teddy memaparkan berbagai capaian diplomasi yang telah diraih Presiden Prabowo, sekaligus merinci aspek pembiayaan dari setiap kunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh kepala negara.

Anies Mengenang Perjumpaan Pertama dengan Dino

Di tengah hiruk-pikuk diskusi tersebut, Anies Baswedan justru mengajak publik untuk melihat lebih jauh sosok Dino Patti Djalal. Ia memulai ceritanya dari masa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, nama Dino pertama kali terdengar olehnya sebagai seorang diplomat muda Indonesia yang tampil percaya diri di forum BBC World Debate. “Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate,” tulis Anies di akun X pribadinya, Selasa (2/6). Pertemuan langsung antara keduanya baru terjadi ketika Anies tengah menjalani studi doktoral di Illinois, Amerika Serikat. Kala itu, Dino datang ke Chicago untuk berdialog dengan mahasiswa dan komunitas diaspora Indonesia pasca-peristiwa 9/11. Suasana diskusi berlangsung hangat, dan Anies mengaku terkesan dengan cara Dino membawakan diri.

Rekam Jejak yang Membangun Kredibilitas

Dalam penuturannya, Anies menyoroti kemampuan komunikasi Dino yang dinilainya sangat kuat. Ia juga menekankan bahwa mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu memiliki ketenangan dalam menghadapi persoalan rumit, sebuah kualitas yang langka di dunia diplomasi. Anies juga mengingat peran penting Dino dalam penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia pertama pada tahun 2012 di Los Angeles. Acara tersebut menjadi tonggak sejarah karena berhasil mempertemukan warga Indonesia dari berbagai penjuru dunia, sekaligus memperkuat jejaring diaspora di luar negeri. Tak hanya itu, Dino juga dikenal sebagai pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Organisasi ini secara konsisten mendorong diskusi publik dan edukasi mengenai isu-isu hubungan internasional, menjadikannya wadah bagi siapa pun yang ingin mendalami politik luar negeri. “Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat,” tulis Anies.

Mengapa Pandangan Dino Layak Didengar

Menurut Anies, rekam jejak panjang yang dimiliki Dino Patti Djalal menjadi alasan kuat mengapa setiap pandangan dan sarannya patut dipertimbangkan secara serius. Bukan tanpa dasar, pengalaman bertahun-tahun di panggung internasional telah membentuk Dino menjadi figur yang paham betul seluk-beluk diplomasi. Di tengah riuhnya perdebatan soal anggaran dan efektivitas perjalanan presiden, pernyataan Anies ini seolah mengingatkan publik untuk tidak melupakan kapasitas dan kontribusi nyata yang telah diberikan oleh Dino selama ini. Sebuah pengingat bahwa kritik yang membangun, jika datang dari sosok yang tepat, justru bisa menjadi bahan evaluasi yang berharga bagi pemerintahan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar