Misteri Sosok Pak Haji, Dermawan Malam yang Rutin Bagikan Uang ke Tuna Wisma Jakarta

- Selasa, 02 Juni 2026 | 03:00 WIB
Misteri Sosok Pak Haji, Dermawan Malam yang Rutin Bagikan Uang ke Tuna Wisma Jakarta

PARADAPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, seorang figur misterius yang akrab disapa Pak Haji telah lama menjadi legenda di kalangan tuna wisma. Sosok ini rutin muncul pada dini hari, membagikan uang tunai di beberapa titik strategis ibu kota, seperti Jalan Panglima Polim, Mampang, Manggarai, Pasar Rumput, hingga Senen. Meskipun aksinya sudah berlangsung lama, identitas asli Pak Haji masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan. Kabar yang beredar di kalangan penerima manfaat menyebutkan ia adalah seorang pengusaha, namun tidak ada satu pun informasi yang bisa diverifikasi kebenarannya.

Rutinitas Malam yang Dinanti

Kehadiran Pak Haji selalu terjadi pada larut malam, tanpa pengumuman atau keramaian. Ia datang, membagikan amplop berisi uang, dan pergi dalam hitungan menit. Dari pengamatan di lapangan, setiap tuna wisma biasanya menerima sekitar Rp 50 ribu. Namun, untuk warga lanjut usia, nominal yang diberikan lebih besar, mencapai Rp 100 ribu. Ritme pemberian ini sudah berlangsung konsisten, menjadikannya semacam harapan bulanan bagi mereka yang hidup di pinggiran.

Prosesnya sangat singkat. Di Jalan Panglima Polim, misalnya, Pak Haji hanya melintas dan berhenti sejenak. Tidak lebih dari lima menit, ia sudah melanjutkan perjalanan. Tidak ada interaksi panjang, tidak ada foto, dan tidak ada kesempatan bagi siapa pun untuk menggali lebih dalam tentang siapa sebenarnya pria di balik kemudi mobil itu.

Misteri Identitas yang Tak Kunjung Terungkap

Hingga kini, tidak ada satu pun pihak yang berhasil memastikan latar belakang Pak Haji. Informasi yang beredar hanya berasal dari cerita mulut ke mulut, tanpa bukti konkret. Seorang tuna wisma bernama Tian, yang biasa mangkal di sekitar Panglima Polim, pernah mendengar bahwa Pak Haji adalah seorang pengusaha sawit dan batu bara asal Batulicin, Kalimantan Selatan. Namun, Tian mengaku tidak pernah menanyakan hal itu langsung kepada Pak Haji saat menerima uang.

Cerita berbeda datang dari Wahyu, tuna wisma lainnya. Ia meyakini Pak Haji berasal dari Padang, Sumatera Barat, dan tinggal di kawasan Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru. "Orang Padang, katanya sih pengusaha," ujar Wahyu saat berbincang pada Jumat 29 Mei 2026, dini hari. Lagi-lagi, informasi ini hanya sebatas kabar burung yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Wahyu sendiri mengaku tidak tahu pasti siapa nama asli di balik sapaan Pak Haji. Beragam versi cerita terus bermunculan di kalangan masyarakat, mulai dari pengusaha Kalimantan hingga pengusaha Sumatera, namun semuanya masih berada di ranah spekulasi.

Harapan di Tengah Kerasnya Ibu Kota

Terlepas dari misteri yang menyelimutinya, satu hal yang pasti: Pak Haji adalah sosok yang paling dinantikan oleh Tian, Wahyu, dan puluhan tuna wisma lainnya. Di balik kaca mobil yang terbuka sesaat, ada tangan yang menjulurkan amplop tanpa perlu memperkenalkan diri. Bagi mereka yang setia menunggu, identitas Pak Haji bukanlah hal yang penting. Yang mereka tahu, ada seorang dermawan yang sedikit membawa harapan untuk menyambung hidup di tengah kerasnya ibu kota.

Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi tidak berhasil mewawancarai Pak Haji secara langsung. Ia hanya melintas, memberi, lalu menghilang. Identitasnya tetap menjadi teka-teki yang mungkin tidak akan pernah terpecahkan. Namun, bagi para tuna wisma, kehadirannya sudah cukup menjadi alasan untuk terus bertahan.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar