Gubernur NTT Evaluasi Kendala Penyerapan Program Makan Bergizi Gratis di Sumba

- Minggu, 15 Maret 2026 | 02:25 WIB
Gubernur NTT Evaluasi Kendala Penyerapan Program Makan Bergizi Gratis di Sumba

PARADAPOS.COM - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menggelar pertemuan evaluasi untuk membahas kendala penyerapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daratan Sumba. Pertemuan yang digelar di Aula Universitas Kristen Wira Wacana, Sumba Timur, Sabtu (14/3/2024) itu melibatkan perwakilan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan mitra Badan Gizi Nasional (BGN). Diskusi mengungkap tantangan utama dalam menjangkau target penerima manfaat, terutama di wilayah terpencil.

Penyerapan di Sumba Masih Rendah

Dalam forum tersebut, Kepala SPPI Regional NTT, Oswaldus Ngani, mengakui bahwa realisasi program di Sumba Timur masih jauh dari target. Dari 70.000 anak yang seharusnya terlayani, baru sekitar 11.000 yang menerima manfaat. Ia membandingkan kondisi ini dengan perkembangan yang lebih masif di daratan Flores dan Timor.

“Untuk wilayah Sumba Raya, penambahan mitra berjalan sangat lambat dibandingkan daratan Flores dan Timor yang lebih masif,” tuturnya.

Oswaldus menyebut, pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diharapkan dapat menjadi solusi. Kendala administrasi, menurutnya, masih menghambat banyak calon mitra yang telah mendaftar. Ia juga berharap kunjungan Gubernur dapat membantu memecahkan persoalan di lapangan.

“Kami berharap kehadiran Bapak Gubernur di Pulau Sumba dapat membantu kami menemukan solusi. Kami juga ingin menyampaikan bahwa Sumba Tengah kini sudah memiliki satu mitra BGN. Kabupaten ini menjadi daerah terakhir di Indonesia yang akhirnya memiliki layanan MBG,” ungkapnya.

Tantangan Jangkauan Geografis

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, yang hadir dalam kesempatan sama, mengonfirmasi bahwa tantangan terbesar adalah geografis. Jarak yang jauh ke sekolah-sekolah di pelosok membuat distribusi layanan menjadi tidak sederhana.

“MBG ini sangat bermanfaat dan dirindukan masyarakat. Namun jangkauan sekolah-sekolah di Sumba Timur bukan hal mudah. Dalam satu tahun berjalan, evaluasi menunjukkan perlunya pembentukan layanan dan dapur MBG sebagai salah satu solusi,” jelas Bupati Umbu Lili.

Pemkab, lanjutnya, terus berupaya mengajak mitra untuk masuk ke daerah terpencil. Strategi yang akan ditempuh adalah dengan memetakan dan memberikan informasi titik layanan yang lebih mudah dijangkau guna mempercepat peningkatan jumlah penerima manfaat.

Gubernur: MBG Adalah Pengubah Permainan

Merespons berbagai masukan tersebut, Gubernur Melki menegaskan komitmennya. Ia menyebut Program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto sebagai 'game changer' atau pengubah permainan, bukan hanya untuk gizi tetapi juga perekonomian daerah.

“Program ini membuka lapangan kerja dan berdampak pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan, hingga perikanan. Walaupun kita masih tertinggal dibanding Pulau Jawa atau NTB, kita akan terus mengejar kuantitas sambil menjaga kualitas,” ucap Gubernur Melki.

Ia mengakui capaian pembangunan dapur MBG di NTT baru 47 persen dari total kebutuhan. Namun, target pemerintah pusat adalah mencapai 100 persen pada Desember 2024. Untuk mendukung hal itu, Gubernur mengusulkan pemberdayaan warga miskin ekstrem sebagai tenaga kerja di dapur MBG.

Pesan Tegas di Tengah Pro-Kontra

Menutup arahannya, Gubernur Melki memberikan pesan tegas kepada para pelaksana di lapangan yang mungkin khawatir dengan berbagai pro-kontra yang beredar. Ia meminta semua pihak fokus pada penyelesaian masalah dan peningkatan kualitas.

“Jangan takut, program ini akan terus berjalan. Kami membutuhkan masukan dari semua pihak terkait kendala di lapangan. Jaga kualitas, dan terus dorong kuantitas,” pungkasnya.

Pertemuan ini menegaskan bahwa di balik manfaat besarnya, implementasi Program MBG di daerah dengan tantangan geografis seperti Sumba memerlukan pendekatan dan solusi yang lebih khusus serta kolaborasi yang erat antar semua pemangku kepentingan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar