Trump Tunda Rencana Militer Rebut Uranium Iran di Tengah Klaim Kesepakatan Damai yang Hampir Tercapai

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:25 WIB
Trump Tunda Rencana Militer Rebut Uranium Iran di Tengah Klaim Kesepakatan Damai yang Hampir Tercapai
PARADAPOS.COM - Washington DC menjadi saksi ketegangan baru di panggung diplomasi global. Militer Amerika Serikat disebut telah menyusun rencana operasi darat mendesak untuk merebut uranium milik Iran secara paksa, namun Presiden Donald Trump menunda eksekusinya. Informasi ini diungkap oleh sumber internal kepada CNN pada Jumat lalu, menggambarkan situasi genting di balik meja perundingan. Sementara itu, di sisi lain, baik Teheran maupun Washington sama-sama mengklaim bahwa kesepakatan damai sudah di ambang pintu, dengan nota kesepahaman yang disebut telah rampung pada poin-poin utamanya.

Rencana Militer yang Tertunda

Menurut laporan yang mengutip sumber yang mengetahui langsung masalah ini, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine melakukan kunjungan rahasia pada akhir Mei lalu. Ia mendatangi markas Komando Pusat AS di Florida untuk mendapatkan pengarahan penuh mengenai rencana operasi darat tersebut. Tujuan utamanya: merebut uranium yang telah diperkaya tinggi milik Iran secara paksa. Namun, di tengah persiapan yang berlangsung cepat, Trump justru menarik tuas rem darurat. Sumber tersebut menjelaskan bahwa presiden AS mendapat peringatan keras bahwa langkah ini kemungkinan besar akan memicu respons militer balasan dari Teheran, memperpanjang konflik berkepanjangan, dan mengguncang ekonomi global lebih dalam lagi. Selain itu, Trump juga menyatakan keprihatinan serius terhadap potensi kerugian besar yang harus ditanggung oleh personel militer AS di lapangan.

Kesepakatan di Ujung Jari

Di tengah bayang-bayang operasi militer, perkembangan diplomatik justru menunjukkan arah yang berbeda. Pada Kamis lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa poin-poin akhir dari perjanjian damai antara AS dan Iran telah disepakati oleh semua pihak yang terlibat, termasuk Israel. Ia bahkan menambahkan bahwa kesepakatan tersebut dapat ditandatangani paling cepat pada akhir pekan di Eropa. "Kesepakatan dapat diselesaikan dalam beberapa hari ke depan," ujarnya. Pernyataan Trump itu kemudian mendapat konfirmasi dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Ia mengakui bahwa teks nota kesepahaman telah disepakati pada poin-poin utamanya. Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat lalu menyampaikan bahwa Teheran dan Washington belum pernah sedekat ini untuk mencapai kesepakatan. "Kami belum pernah sedekat ini," ungkap Araghchi. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pun turut angkat bicara, mengumumkan bahwa teks akhir kesepakatan perdamaian telah disepakati oleh semua pihak. Pernyataan ini semakin memperkuat sinyal bahwa meskipun ada rencana militer di atas meja, jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama yang sedang ditempuh.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler