PARADAPOS.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menerapkan pemadaman listrik selama satu jam pada Sabtu (13/6) malam, mulai pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB. Kebijakan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang bertujuan menghemat energi dan mengurangi emisi karbon. Pemadaman tersebut menyasar sejumlah ikon ibu kota dan ruas jalan protokol, termasuk Monumen Nasional (Monas) dan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Di sisi lain, harga telur ayam ras di pasar tradisional Jakarta justru menunjukkan tren penurunan signifikan, mencapai Rp 26.000 per kilogram, namun para pedagang mengeluhkan sepinya pembeli.
Pemadaman Listrik Satu Jam: Monas hingga HI Mati Lampu
Aksi pemadaman serupa sebenarnya bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, pada Sabtu (25/4), inisiatif ini berhasil mencatat penghematan konsumsi listrik yang cukup signifikan, mencapai 96,91 megawatt hour (MWh). Dari sisi anggaran, efisiensi yang tercatat pun tak main-main, mencapai Rp 140,22 juta. Lebih dari itu, kontribusi terhadap lingkungan juga terlihat nyata dengan penekanan emisi karbon hingga 77,53 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).
Langkah ini memiliki landasan hukum yang jelas, yakni Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Kebijakan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diharapkan mampu mengedukasi masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup hemat energi secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menekankan pentingnya partisipasi warga. Menurutnya, tindakan sederhana seperti mematikan lampu yang tidak terpakai secara konsisten, "dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan Jakarta," ujarnya.
Harga Telur Anjlok, Pedagang Justru Keluhkan Sepi Pembeli
Di tengah hiruk-pikuk kebijakan pemadaman listrik, ada kabar lain dari sektor pangan. Harga telur ayam ras di pasar tradisional Jakarta, khususnya di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur, menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam. Per Sabtu (13/6), harga berada di kisaran Rp 26.000 hingga Rp 29.000 per kilogram. Angka ini turun drastis dari level di atas Rp 30.000 per kilogram yang tercatat beberapa hari pasca-Lebaran Idul Adha.
Di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, misalnya, telur dibanderol Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kg. Menariknya, harga ini bahkan berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak yang ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kg. Situasi ini tentu menjadi ironi tersendiri.
Meskipun harga mengalami penurunan, para pedagang melaporkan adanya penurunan minat beli masyarakat. Fenomena ini cukup kontradiktif. Biasanya, harga murah justru akan mendongkrak permintaan. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Para pedagang justru mengaku mengalami peningkatan penjualan ketika harga telur berada di level yang lebih tinggi, seperti saat mencapai Rp 31.000 hingga Rp 32.000 per kg.
Data dari laman Info Pangan Jakarta juga mengonfirmasi kondisi ini. Harga telur ayam ras hari ini rata-rata Rp 27.500 per kg, mengalami penurunan Rp 426 dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius bagi pelaku usaha di sektor peritel telur. Penurunan harga yang tidak diiringi dengan peningkatan volume penjualan mengindikasikan adanya pergeseran pola konsumsi atau penurunan daya beli masyarakat. Dinamika pasar telur saat ini tentu perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami akar permasalahannya.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Legenda Sepak Bola Luis Figo Akan Hadir di Jakarta, Jembatani Taktik Lapangan Hijau dengan Mind Sport
20.500 Pelari Meriahkan BTN JAKIM 2026, Pemprov DKI Pastikan CCTV Bundaran HI Berfungsi Normal
Presiden Prabowo Lantik Kepala BGN Baru dan Said Iqbal sebagai Penasihat Ketenagakerjaan
Perbanas dan Ubaya Kampiper Perdana Campus League Basket 2026