Menkominfo Akui Masih Ada Titik Blank Spot Internet di Bali, Nusa Penida Jadi Sorotan

- Selasa, 24 Maret 2026 | 09:50 WIB
Menkominfo Akui Masih Ada Titik Blank Spot Internet di Bali, Nusa Penida Jadi Sorotan

PARADAPOS.COM - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Hafid mengakui masih ada titik-titik wisata di Bali yang mengalami kesulitan sinyal internet. Pengakuan ini disampaikan setelah beliau mendengar langsung keluhan sejumlah wisatawan yang memanfaatkan libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026 di Pulau Dewata. Meski secara umum kecepatan internet di Bali selama periode posko bersama Ramadhan dan Idulfitri (Rafi) tergolong baik, perhatian khusus masih diperlukan untuk menjangkau daerah-daerah tertentu.

Keluhan Wisatawan di Bandara Jadi Perhatian Langsung Menteri

Usai melakukan kunjungan kerja, Menteri Meutya Hafid menyempatkan diri menerima masukan dari para pelancong di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Selasa (24 Maret 2026). Dari interaksi langsung itu, terungkap bahwa masalah konektivitas tidak hanya disebabkan kepadatan lalu lintas data, tetapi juga oleh blank spot atau area yang sama sekali belum terjangkau sinyal.

“Tadi memang ada masukan yang cukup berharga yaitu tidak hanya kenaikan frekuensi komunikasi yang membuat jaringan internet sedikit melambat, tapi ada daerah-daerah di Bali ini yang memang belum ada sinyal,” tutur Meutya.

Nusa Penida Jadi Sorotan Khusus

Daerah yang secara spesifik disebutkan mengalami kendala adalah Nusa Penida, pulau terpisah di wilayah Kabupaten Klungkung. Berbeda dengan kondisi di Nusa Lembongan yang dinilai bagus, kontur wilayah Nusa Penida yang berbukit-bukit diduga menjadi penyebab sulitnya penetrasi jaringan dari operator seluler.

“Jadi tadi memang banyak masukan itu, ada beberapa wilayah wisata yang memang belum ada sinyal, di Nusa Penida sebagai contoh sementara Nusa Lembongan bagus,” ujarnya menegaskan.

“Jadi bukan karena kemacetan dari lalu lintas trafik operator seluler, tapi lebih kepada ada beberapa titik wisata yang memang dirasa perlu ditingkatkan juga untuk apa sambungan konektivitasnya,” sambung Menkominfo.

Respon Cepat Operator dan Janji Perbaikan

Berdasarkan aduan salah satu wisatawan asal Yogyakarta yang ditemui, gangguan tersebut dialami pengguna layanan Telkomsel. Menanggapi hal ini, Menteri Meutya langsung menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak operator terkait. Respon yang diterima pun cukup positif, dengan komitmen perbaikan dalam waktu dekat.

“Dalam dua minggu ke depan diperbaiki, bagus, jadi mudah-mudahan nanti liburan anak-anak sekolah sudah lebih lancar,” ucapnya.

Secara Umum, Kinerja Internet di Bali Masih Positif

Di tengah catatan tentang blank spot tersebut, performa jaringan internet di Bali secara keseluruhan selama gelaran Posko Bersama Rafi 2026 (13-24 Maret) ternyata cukup menggembirakan. Rata-rata kecepatan internet tercatat mencapai 105 Mbps, angka yang melampaui rata-rata kecepatan nasional. Pencapaian ini menunjukkan bahwa upaya penjagaan infrastruktur digital selama arus mudik dan liburan berjalan efektif di banyak area.

Untuk memastikan konektivitas tetap terjaga, Kementerian Kominfo membuka kanal aduan melalui sekitar 500 Posko Bersama Rafi 2026 yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk penerimaan aduan langsung di titik-titik vital seperti bandara.

“Keluhan-keluhan yang masuk baik tadi yang kita terima secara langsung maupun yang melalui posko kurang lebih 90-an persen langsung ditangani,” jelas Meutya.

Pengalaman Berbeda dari Para Wisatawan

Pengalaman nyata para pelancong pun beragam. Nia Adani (27), salah satu wisatawan yang diajak berkomunikasi oleh Menteri Meutya, mengaku tidak mengalami kendala berarti selama delapan hari berlibur bersama dua temannya. Ia merasa koneksi di sejumlah destinasi populer seperti Canggu, Ubud, Uluwatu, hingga Nusa Lembongan cukup lancar untuk berkomunikasi dengan keluarga di Yogyakarta.

Namun, cerita berbeda justru datang dari teman seperjalanannya. “Di Bali sinyalnya aman untuk saya, sejak tanggal 17 sudah di sini dan lancar… tapi ada teman yang kesulitan sedikit di Nusa Penida,” kata Nia.

Kisah ini menggarisbawahi bahwa tantangan konektivitas di destinasi wisata utama seperti Bali seringkali bersifat spesifik lokasi. Upaya pemerataan sinyal, terutama di daerah dengan topografi menantang seperti Nusa Penida, tetap menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan perhatian dan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan penyedia layanan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar