Prabowo Peringatkan Ancaman El Nino Godzilla di KTT ASEAN, Desak Penguatan Ketahanan Pangan Regional

- Kamis, 14 Mei 2026 | 05:25 WIB
Prabowo Peringatkan Ancaman El Nino Godzilla di KTT ASEAN, Desak Penguatan Ketahanan Pangan Regional
PARADAPOS.COM - Ancaman El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” menjadi sorotan utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang berlangsung di Filipina pada Jumat, 8 Mei 2026. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara khusus mengingatkan para pemimpin kawasan tentang risiko besar fenomena iklim ini terhadap ketahanan pangan regional. Negara-negara Asia Tenggara dinilai sebagai wilayah paling rentan karena posisinya yang berada di dekat garis khatulistiwa.

Apa Itu El Nino Godzilla?

Fenomena El Nino sejatinya merupakan bagian dari siklus iklim alami yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Proses ini ditandai dengan memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Namun, label “Godzilla” bukanlah istilah resmi dari organisasi meteorologi mana pun. Julukan tersebut muncul ketika anomali suhu air laut mencapai 2,0 derajat Celsius atau lebih di atas rata-rata jangka panjang. Menurut data dari World Meteorological Organization (WMO), tanda-tanda awal El Nino Godzilla kali ini terlihat sangat kuat. Kondisinya disebut mirip dengan peristiwa dahsyat pada tahun 1997/1998, yang tercatat sebagai El Nino terkuat dalam sejarah modern. Fenomena serupa juga pernah terjadi pada 1982 dan 2015, yang saat itu memicu kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan luas di berbagai belahan dunia.

Dampak yang Mengintai Asia Tenggara

El Nino Godzilla diprediksi akan membawa serangkaian bencana, mulai dari kekeringan parah, gelombang panas, hingga kebakaran hutan dan lahan. Beberapa dampak yang perlu diwaspadai oleh negara-negara ASEAN antara lain:
  • Kekeringan ekstrem di Indonesia, Filipina, dan sebagian Malaysia
  • Gelombang panas dengan suhu yang pernah menembus 43 derajat Celsius di Kamboja dan 48,2 derajat Celsius di Myanmar
  • Kebakaran hutan dan lahan gambut yang berpotensi memicu kabut asap lintas batas negara
  • Krisis air bersih di daerah yang bergantung pada waduk dan sumber air permukaan
  • Gangguan penerbangan akibat jarak pandang rendah yang disebabkan oleh kabut asap

Wilayah Paling Rentan Terdampak

Indonesia
Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Daerah wisata seperti Lombok, Sumba, dan Komodo berisiko tinggi mengalami kelangkaan air bersih. Sementara itu, Kalimantan dan Sumatra harus waspada terhadap kabut asap akibat kebakaran lahan gambut yang kerap terjadi. Thailand
Ibu kota Bangkok pernah mencatat suhu hingga 40 derajat Celsius. Sensasi panas di kota ini bahkan bisa mendekati 50 derajat Celsius akibat efek pulau panas perkotaan. Vietnam
Vietnam bagian selatan menghadapi risiko kekeringan yang cukup serius. Sebaliknya, wilayah utara seperti Hanoi dan Sapa relatif lebih stabil, meskipun tetap merasakan peningkatan suhu harian. Filipina
Negara kepulauan ini sering mengalami pola cuaca yang campuran. Beberapa wilayah bisa mengalami kekeringan parah, sementara daerah lainnya berpotensi dilanda badai tropis yang lebih intens menjelang akhir fase El Nino. Destinasi populer seperti Palawan dan Cebu tetap menarik, namun para pelancong disarankan untuk memantau kondisi cuaca harian.

Seruan Presiden Prabowo di KTT ASEAN

Di tengah kekhawatiran global akan dampak El Nino, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan ASEAN menjadi semakin mendesak. Ia menyebut bahwa ancaman ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan sudah di depan mata. “Kita telah diperingatkan oleh organisasi internasional tentang risiko El Nino yang sangat ekstrem yang mengintai di depan kita. Dalam hal ini, ketahanan pangan menjadi semakin mendesak,” tutur Presiden dalam pidatonya di KTT ke-48 ASEAN. Menurut Kepala Negara, tantangan pangan tidak bisa ditangani sendiri oleh masing-masing negara. Dibutuhkan kerja sama dan koordinasi yang lebih kuat di tingkat kawasan. Presiden juga mendorong penguatan pertukaran informasi, diversifikasi pangan, pengembangan teknologi pertanian, serta optimalisasi cadangan pangan regional ASEAN. “Ini bukan tantangan yang bisa ditangani oleh satu negara saja. ASEAN harus bertindak bersama. Hal ini juga membutuhkan penyederhanaan ASEAN Plus Three Cadangan Beras Darurat. Kita harus memajukan cadangan pangan berbasis cadangan lokal kita,” ucap Presiden. Suasana di ruang konferensi pun terasa hening saat para delegasi menyimak peringatan tersebut. Di luar ruangan, langit Manila yang cerah seolah menjadi ironi di tengah ancaman kekeringan yang membayangi kawasan. Para pemimpin ASEAN kini dihadapkan pada kenyataan bahwa kerja sama regional bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menghadapi badai iklim yang akan datang.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar