PARADAPOS.COM - Hampir sebulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, konflik yang digambarkan sebagai 'blitzkrieg' itu justru berlarut-larut, jauh dari harapan awal Washington dan Tel Aviv untuk kemenangan cepat. Perang yang berkepanjangan ini tidak hanya menjadi beban strategis, tetapi juga menimbulkan risiko politik besar bagi kedua pemimpinnya, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tengah menghadapi tantangan pemilu domestik.
Kegagalan Strategi "Blitzkrieg"
Konsep 'blitzkrieg' atau perang kilat, yang terkenal dari awal Perang Dunia Kedua, ternyata gagal diterapkan di Iran. Alih-alih menumbangkan rezim, serangan udara masif AS-Israel justru dihadapkan pada ketahanan yang tak terduga. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, dengan tegas menyoroti kegagalan ini.
"Rezim Iran tidak tumbang. Rakyat Iran juga tidak memberontak kepada penguasanya," ujarnya pada pertengahan Maret lalu.
Pandangan serupa muncul dari dalam tubuh pemerintahan AS sendiri. Media seperti New York Times mengungkap pengakuan para pejabat bahwa terjadi miskalkulasi besar dalam menilai kemampuan Iran. Trump, yang awalnya meramalkan perang tiga hari, terpaksa berbelit dalam pernyataan tentang perundingan perdamaian.
Kekeliruan Asumsi dan Ketahanan Iran
Strategi AS-Israel tampaknya dibangun di atas asumsi yang keliru. Keduanya berharap bombardemen akan memicu keruntuhan internal di Iran, mirip dengan nasib Libya pada 2011. Namun, harapan itu pupus. Sistem kepemimpinan kolektif dan kolegial di Tehran terbukti jauh lebih tangguh dibanding pemerintahan otokratik satu orang seperti era Gaddafi.
Fondasi itu membuat rezim tetap berdiri kokoh meski dihujani serangan, bahkan yang dilakukan tanpa mandat PBB atau persetujuan kongres AS. Ketahanan ini diperkuat oleh fakta di lapangan: kemampuan militer Iran tidak menunjukkan degradasi. Mereka tetap mampu melancarkan serangan balasan, termasuk ke posisi-posisi AS yang jauh di kawasan Teluk dan Samudera Hindia.
Tekanan Domestik dan Kritik Kebijakan
Di dalam negeri AS, kebijakan Trump menuai kritik tajam. Mundurnya Direktur Badan Kontraterorisme AS, Joe Kent, karena menilai Iran bukan ancaman, adalah salah satu sinyal kuat ketidaksepahaman. Kritik juga datang dari kalangan politisi oposisi yang mempertanyakan dasar dan arah perang ini.
Senator Elizabeth Warren, misalnya, menyimpulkan ketiadaan rencana yang jelas dari Gedung Putih. "Trump tak punya satu pun alasan yang jelas untuk melancarkan perang ini," tuturnya usai pertemuan tertutup di Senat.
Senator Chris Van Hollen bahkan lebih keras, menuding Trump hanya menuruti agenda Perdana Menteri Netanyahu yang telah lama berobsesi menekan Iran. Invasi darat yang mulai diwacanakan pun dipandang sebagai langkah berisiko tinggi, mengingat sejarah panjang Iran yang sulit diduduki kekuatan asing.
Dimensi Geopolitik: Reaksi Rusia dan China
Eskalasi konflik ini mustahil dipisahkan dari peta geopolitik global. Rusia, dengan hubungan sejarah dan kepentingan keamanan di Laut Kaspia, tidak akan melihat invasi AS ke Iran sebagai hal yang ringan. Kehadiran pengaruh AS yang kuat di Iran dianggap akan mengancam wilayah pengaruh Rusia di Kaukasus Selatan dan Asia Tengah, menciptakan tekanan strategis baru di selatan.
Di sisi lain, China juga memiliki kepentingan vital. Iran yang berpihak ke AS akan menjadi penghalang besar bagi ambisi proyek infrastruktur global China, yaitu Prakarsa Sabuk dan Jalan. Stabilitas di Iran crucial bagi konektivitas China ke Asia Barat, Eropa, dan Afrika.
Analisis Akhir: Iran di Posisi Bertahan?
Menghadapi situasi ini, Iran tampaknya membaca dengan cermat setiap kelemahan lawannya. Tehran memahami sensitivitas Trump terhadap stabilitas pasar keuangan global dan tekanan politik domestik, terutama menjelang pemilu. Setiap gertakan dari Washington justru diinterpretasi sebagai upaya menenangkan pasar, bukan sebagai langkah diplomatik yang serius.
Keyakinan ini, ditambah dengan ketahanan militer dan politik dalam negeri, serta potensi reaksi dari kekuatan global seperti Rusia dan China, menempatkan Iran pada posisi bertahan yang kuat. Perang yang awalnya dirancang untuk 'blitzkrieg' kini berubah menjadi ujian ketahanan yang justru mempertanyakan kalkulasi dan kesiapan panjang dari pihak yang memulai serangan.
Artikel Terkait
Terminal Pulo Gebang Prediksi Puncak Arus Balik Akhir Pekan Ini
Arus Balik Lebaran 2026 di Terminal Pondok Pinang Lancar, Harga Tiket Mulai Turun
Harga Perak Antam Melonjak Rp2.100 ke Rp46.550 per Gram
Dubes Saudi: 85% Serangan Iran Arahkan ke Negara Tetangga, Bukan Israel