Dokter Imbau Pola Hidup Sehat Pasca-Lebaran Cegah Beban Ginjal Meningkat

- Jumat, 27 Maret 2026 | 12:50 WIB
Dokter Imbau Pola Hidup Sehat Pasca-Lebaran Cegah Beban Ginjal Meningkat

PARADAPOS.COM - Usai menjalani Ramadan dan Idul Fitri, masyarakat diimbau untuk segera mengembalikan pola hidup sehat guna menjaga fungsi ginjal. Dokter spesialis mengingatkan, konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis selama periode liburan dapat membebani organ vital ini jika tidak segera dikendalikan. Imbauan ini disampaikan menyusul data yang menunjukkan peningkatan signifikan beban biaya dan kasus penyakit ginjal dalam beberapa tahun terakhir.

Peringatan Dokter Usai Libur Panjang

Momentum pasca-lebaran seringkali menjadi titik balik. Setelah sebulan penuh berpuasa dan disusul perayaan yang riuh dengan hidangan khas, tubuh memerlukan penyesuaian kembali. dr. Jonny, Sp.PD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, menggarisbawahi bahwa kebiasaan selama Ramadan dan Lebaran berpotensi mengganggu keseimbangan tubuh, terutama kerja ginjal yang bertugas menyaring racun dan menjaga kestabilan cairan.

“Air putih harus kembali menjadi pilihan utama. Sementara konsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis perlu dibatasi agar tidak membebani kerja ginjal,” tegasnya dalam sebuah keterangan tertulis, Jumat (27/3/2026).

Dia memaparkan, konsumsi gula dan garam berlebih bukan hanya soal berat badan. Kebiasaan itu dapat memicu lonjakan tekanan dan gula darah, yang dalam perjalanannya menjadi pintu masuk bagi hipertensi dan diabetes. Dua penyakit inilah, menurutnya, yang kerap menjadi penyebab utama penyakit ginjal kronis di kemudian hari.

Data BPJS: Beban Ginjal yang Terus Membesar

Peringatan tersebut bukan tanpa dasar. Data dari BPJS Kesehatan dalam kurun 2020 hingga 2025 memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan. Jumlah peserta dengan layanan penyakit ginjal melonjak dari sekitar 290 ribu jiwa menjadi hampir 583 ribu jiwa. Secara paralel, total kasus layanan juga naik dari 5,63 juta menjadi 9,21 juta kasus.

Dari sisi pembiayaan, angka yang terlihat pun cukup besar. Biaya verifikasi layanan penyakit ginjal secara keseluruhan hampir dua kali lipat, dari Rp 5,72 triliun pada 2020 menjadi Rp 10,35 triliun di 2025. Secara kumulatif, dalam enam tahun tersebut, pembiayaan untuk penanganan penyakit ginjal telah menembus angka Rp 45,52 triliun.

Hemodialisis Dominasi Beban Biaya

Jika dirinci, layanan cuci darah atau hemodialisis (HD) menjadi kontributor terbesar. Peserta HD meningkat dari 123.748 jiwa menjadi 211.753 jiwa, dengan jumlah kasus melesat dari 6,25 juta menjadi 9,05 juta. Biaya verifikasinya pun mengalami lonjakan signifikan, dari Rp 6,92 triliun menjadi Rp 12,19 triliun.

Sementara itu, terapi alternatif seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) menunjukkan peningkatan yang lebih bertahap. Pesertanya naik dari 2.694 menjadi 3.247 jiwa. Layanan transplantasi ginjal sendiri masih sangat terbatas, dengan jumlah tindakan yang stabil di kisaran belasan kasus per tahunnya.

Pencegahan di Faskes Primer adalah Kunci

Menanggapi data tersebut, dr. Jonny memberikan penekanan penting. Peningkatan kasus yang tercatat, ujarnya, banyak berasal dari perburukan kondisi pasien yang telah memiliki riwayat, bukan semata-mata kasus baru. Fakta ini justru menyoroti celah besar dalam upaya pencegahan sekunder dan penatalaksanaan dini.

“Peran promotif dan preventif sangat krusial, dan paling efektif dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional,” ungkapnya.

Menurutnya, pencegahan bisa dimulai dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten. Edukasi gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin tekanan darah dan gula darah, serta deteksi dini melalui pemeriksaan urine, adalah fondasi utama. Dengan pemantauan ketat dan intervensi segera, fasilitas kesehatan di tingkat pertama diharapkan mampu mencegah penyakit ginjal kronis berkembang ke tahap yang memerlukan terapi mahal seperti cuci darah.

“Hal ini tentu akan meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mengurangi kebutuhan perawatan di rumah sakit,” tutup dr. Jonny menandaskan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar