PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia dan Jepang sedang menginisiasi kerja sama strategis dalam pengelolaan kawasan konservasi melalui program sister park. Inisiatif ini, yang diumumkan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada akhir Maret 2026, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengakuan internasional taman nasional di Indonesia dengan cara bertukar pengetahuan dan praktik terbaik dengan mitra Jepang.
Mengenal Konsep Sister Park
Konsep sister park atau taman nasional kembar dirancang sebagai jembatan kolaborasi antara dua kawasan lindung di negara berbeda. Dalam rencana ini, Fuji-Hakone-Izu National Park di Jepang akan dipasangkan dengan beberapa taman nasional di Indonesia yang memiliki kesamaan karakteristik ekosistem, seperti lanskap vulkanik dan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa kerja sama ini akan menghubungkan Fuji-Hakone-Izu National Park dengan sejumlah taman nasional di tanah air yang memiliki karakteristik ekosistem serupa. Beberapa kandidat kuat di antaranya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Tujuan dan Manfaat Kolaborasi
Kolaborasi ini tidak sekadar simbolis. Inti dari program ini adalah pertukaran keahlian yang konkret, mencakup aspek teknis konservasi, pengelolaan pengunjung, dan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Dengan belajar dari pengalaman Jepang yang telah lama mengelola taman nasionalnya, diharapkan kualitas pengelolaan taman nasional Indonesia dapat meningkat signifikan.
“Kerja sama sister park ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengelolaan taman nasional melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik di bidang konservasi dan pengembangan ekowisata,” tambah Raja Juli.
Respons Positif dan Langkah Teknis
Penjajakan kerja sama ini dilakukan Menhut Raja Juli Antoni bersama dengan Direktur Fuji-Hakone-Izu National Park, Shichimeko Shuichi, serta perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Pihak Jepang dilaporkan menyambut baik usulan tersebut dengan antusias.
Rencananya, inisiatif ini akan segera ditindaklanjuti melalui penyelenggaraan technical workshop. Forum tersebut akan menjadi ruang bagi para ahli dari kedua negara untuk duduk bersama merumuskan kerangka kerja yang detail dan dapat diimplementasikan di lapangan.
Memperluas Cakupan Diplomasi Konservasi
Menariknya, inisiatif sister park ini merupakan bagian dari upaya diplomasi konservasi yang lebih luas yang dilakukan Indonesia di Jepang. Sebelumnya, pada Sabtu, 28 Maret 2026, Menteri Kehutanan telah lebih dulu menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Gubernur Prefektur Shizuoka mengenai program breeding loan untuk Komodo (Varanus komodoensis).
Kedua langkah kerja sama ini, baik sister park maupun breeding loan Komodo, ditempatkan dalam konteks yang lebih besar. Raja Juli menegaskan bahwa ini merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang.
“Pengembangan kerja sama sister park dengan Fuji-Hakone-Izu National Park dan MoU breeding loan Komodo menjadi program Kementerian Kehutanan untuk membantu memperkuat hubungan Indonesia-Jepang yang menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang,” ujarnya.
Dengan demikian, kolaborasi di bidang lingkungan hidup ini tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga memiliki dimensi strategis dalam memperkokoh hubungan antara kedua negara.
Artikel Terkait
Kemenpar Jajaki Kerja Sama dengan ANA untuk Buka Rute Langsung ke Yogyakarta
Presiden Prabowo Dorong Koperasi Desa Salurkan Kredit dengan Bunga 6%
Iran Klaim Hancurkan Pesawat AWACS AS dan Tembak Jatuh Drone di Selat Hormuz
Anggota DPR Kritik Jaksa yang Nilai Nol Pekerjaan Kreatif dalam Kasus Video Desa Karo