Iran Klaim Hancurkan Pesawat AWACS AS dan Tembak Jatuh Drone di Selat Hormuz

- Senin, 30 Maret 2026 | 06:50 WIB
Iran Klaim Hancurkan Pesawat AWACS AS dan Tembak Jatuh Drone di Selat Hormuz

PARADAPOS.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sebuah pesawat peringatan dini dan kendali (AWACS) milik Amerika Serikat, jenis E-3 Sentry, dalam serangkaian operasi militer baru-baru ini. Klaim ini disampaikan menyusul serangan rudal dan drone yang ditargetkan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, serta penembakan jatuh sebuah drone AS di kawasan Selat Hormuz, yang semakin memanaskan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Klaim Penghancuran Pesawat AWACS AS

Melalui pernyataan resmi di outlet berita Sepah News pada Minggu (29/3), IRGC menyatakan bahwa Divisi Kedirgantaraannya bertanggung jawab atas operasi tersebut. Mereka tidak hanya mengklaim telah melumpuhkan pesawat intelijen strategis AS itu, tetapi juga menyebutkan bahwa pesawat-pesawat lain di sekitarnya turut mengalami kerusakan yang signifikan.

Operasi ini disebut sebagai bagian dari serangan terhadap pangkalan udara Saudi yang terletak sekitar 96 kilometer dari Riyadh itu. Sebelumnya, pada Jumat (27/3), IRGC juga melaporkan telah merusak beberapa pesawat tanker KC-135 dan menghancurkan satu unit dalam serangan yang sama.

Drone AS Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Di front lain, pasukan Iran melaporkan keberhasilan pertahanan udaranya pada hari yang sama. Menurut laporan kantor berita resmi IRNA, sebuah drone MQ-9 Reaper milik AS yang diduga melakukan pelanggaran wilayah berhasil ditembak jatuh di wilayah timur Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak global.

Laporan tersebut lebih lanjut mengklaim bahwa pertahanan udara Iran telah menjatuhkan total 138 drone musuh sejak konflik terbuka dimulai.

"Pasukan pertahanan udara Iran telah menembak jatuh 138 drone sejak perang dimulai," sebut laporan itu.

Eskalasi yang Berawal dari Serangan Gabungan

Gelombang klaim dan serangan balasan ini tidak terlepas dari insiden sebelumnya yang menjadi pemicu eskalasi. Pada akhir Februari, sebuah serangan gabungan yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat menghantam Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer senior dan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone skala besar yang menargetkan wilayah Israel serta berbagai pangkalan dan aset militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Situasi ini menciptakan dinamika ketegangan yang kompleks, di mana setiap klaim dan aksi militer berpotensi memperluas konflik.

Analisis dari pengamat keamanan regional mencatat bahwa klaim-klaim semacam ini, meski sering kali sulit diverifikasi secara independen di tengah medan informasi yang padat, tetap menjadi indikator penting dari intensitas perseteruan dan strategi perang psikologis yang sedang berlangsung.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar