BBWS Usulkan Bangun Pengendali Aliran di Sungai Senjoyo dan Bancak untuk Tekan Banjir Demak

- Sabtu, 04 April 2026 | 13:50 WIB
BBWS Usulkan Bangun Pengendali Aliran di Sungai Senjoyo dan Bancak untuk Tekan Banjir Demak

PARADAPOS.COM - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana mengusulkan pembangunan struktur pengendali aliran di Sungai Senjoyo dan Sungai Bancak untuk menekan ancaman banjir yang kerap melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Usulan ini mengemuka dalam rapat koordinasi penanganan banjir yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Kantor Kecamatan Guntur, Sabtu lalu. Rencana teknis ini dianggap sebagai langkah krusial mengingat hingga saat ini belum ada infrastruktur pengendali seperti bendungan di sepanjang kedua sungai tersebut.

Analisis Penyebab dan Usulan Solusi Teknis

Kepala Operasional dan Pemeliharaan BBWS Pemali Juana, Andi Sofyan, memaparkan analisis mendetail di lapangan. Menurutnya, ketiadaan bangunan pengendali membuat aliran air dari hulu langsung mengarah deras ke wilayah Demak. Upaya penutupan di kawasan Rowo Pening, tanpa diimbangi infrastruktur di Senjoyo dan Bancak, dinilai tidak akan cukup efektif mencegah genangan.

“Diperlukan bangunan pengendali dua aliran sungai,” tegas Andi Sofyan dalam paparannya.

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa fokus penanganan harus diprioritaskan pada normalisasi Sungai Tuntang secara bertahap. Observasi di lapangan menunjukkan meski beberapa tanggul telah diperkuat, titik rawan limpasan saat hujan deras masih ada. Faktor penghambat aliran, seperti pepohonan dan material lain di bantaran, juga perlu menjadi perhatian serius.

Mengenai wacana pemindahan alur Sungai Tuntang, Sofyan menyatakan skeptis. Infrastruktur eksisting seperti jembatan dan jalan di bantaran justru berpotensi memperlambat aliran air jika rencana pemindahan dilakukan. Pendekatan struktural melalui pembangunan pengendali dinilai lebih feasible.

Pentingnya Optimalisasi Infrastruktur Eksisting

Dari sisi pemerintah daerah, Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, Ahmad Sugiharto, menekankan pentingnya koordinasi untuk mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada. Ia mendorong peningkatan fungsi Bendung Gelapan di Kabupaten Grobogan agar pengendalian debit air lebih stabil dan terkendali.

“Dari hasil pengecekan, setiap 30 menit terjadi kenaikan debit air yang cukup signifikan. Ditambah lagi sedimen yang tinggi, sehingga diperlukan optimalisasi daya tampung,” ungkap Sugiharto.

Kondisi itu, jelasnya, menyebabkan air dari hulu melimpas dengan cepat ke wilayah hilir seperti Demak, bahkan ketika di daerah tersebut tidak terjadi hujan. Oleh karena itu, selain normalisasi, pembangunan infrastruktur tambahan seperti pintu air atau bendung di beberapa titik strategis dinilai mendesak.

“Dengan adanya tampungan air yang lebih banyak dan pengaturan aliran yang baik, diharapkan air tidak langsung turun ke hilir secara cepat,” harapnya.

Dialog antara otoritas sungai dan pemerintah daerah ini menggarisbawahi kompleksitas penanganan banjir di Demak, yang memerlukan pendekatan terintegrasi, mulai dari pembangunan infrastruktur baru, optimalisasi yang sudah ada, hingga pemeliharaan berkala terhadap kondisi alur sungai.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar