PARADAPOS.COM - Seorang pengusaha kuliner asal Bandung yang dikenal sebagai “Bos Seblak” mengungkapkan kisah di balik kesuksesannya yang ternyata dibayar dengan harga mahal. Teh Sarah, demikian ia biasa disapa, menceritakan bagaimana keputusasaan dan pengkhianatan rumah tangga mendorongnya menempuh jalur pesugihan di Gunung Kawi. Dalam perjanjian gaib itu, ia harus menyerahkan nyawa orang-orang terdekat setiap tiga tahun demi mendapatkan kekayaan instan yang mengubah hidupnya.
Titik Hancur: Ketika Iman Berubah Menjadi Dendam
Kehancuran hidup Sarah bermula dari pengkhianatan suaminya, Dul, yang berselingkuh di rumah mereka sendiri saat Sarah tengah hamil. Sejak saat itu, bisnis seblak yang semula sukses dengan enam cabang tiba-tiba runtuh secara tidak wajar. Teror mistis berupa ribuan belatung yang muncul mendadak di bahan makanan yang masih panas hingga penampakan bayangan hitam besar di kiosnya membuat usahanya mati total.
Dalam kondisi jatuh miskin, dikejar rentenir, dan melihat anaknya hanya bisa minum air tajin encer karena tidak mampu membeli susu, Sarah mencapai titik nadir. Rasa sakit hati yang mendalam membuatnya secara terang-terangan mengutuk Tuhan dan memutuskan untuk menempuh jalur gelap pesugihan di Gunung Kawi atas saran seorang teman.
Ritual di Kolam Keramat dan Kontrak Nyawa
Dengan modal uang pinjaman dari teman-temannya, Sarah berangkat menuju Gunung Kawi. Di sana, ia harus menjalani ritual yang sangat berat. Ia diwajibkan menenggelamkan diri di sebuah kolam keramat pada tengah malam. Secara ajaib, di dalam air yang gelap itu, Sarah mengaku bisa bernapas dan berkomunikasi secara normal dengan sosok makhluk anggun yang menyerupai manusia namun memiliki tanduk.
Di sinilah “Perjanjian Berdarah” itu dimulai. Makhluk tersebut menanyakan kesungguhan Sarah untuk menjadi kaya dengan sebuah syarat yang mengerikan: pemberian tumbal nyawa setiap tiga tahun sekali. Karena amarah dan dendam yang sudah mendarah daging, Sarah tanpa ragu menyetujui kontrak tersebut dan langsung menyebutkan nama mantan suaminya serta wanita selingkuhannya sebagai target tumbal pertama.
Daun Dewandaru dan Manifestasi Modal Gaib
Sebagai segel dari perjanjian tersebut, Sarah diminta melakukan semedi di bawah pohon Dewandaru. Keberhasilan ritual ditandai dengan jatuhnya sehelai daun Dewandaru tepat di hadapannya. Daun inilah yang kemudian menjadi jimat keberuntungan yang harus selalu menempel di tubuhnya. Sarah bahkan mengubah daun tersebut menjadi liontin kalung agar tidak pernah jauh darinya, karena jika daun itu hilang atau rusak, maka kontrak gaibnya pun terancam.
Keajaiban mistis segera berlanjut saat ia berada di terminal bus untuk pulang. Seorang nenek misterius menitipkan sebuah tas jinjing tua kepadanya lalu menghilang begitu saja. Saat dibuka di rumah, tas yang semula terasa ringan itu ternyata berisi uang tunai pecahan Rp100.000 dalam jumlah yang sangat banyak, diperkirakan mencapai Rp4 miliar.
Harga yang Harus Dibayar
Meskipun uang miliaran tersebut berhasil mengangkat kembali derajat ekonominya dan menjadikannya pengusaha sukses lagi, Sarah menyadari bahwa kekayaan tersebut bukanlah pemberian cuma-cuma. Ada harga nyawa yang harus ia pertaruhkan setiap tiga tahun.
Selama sembilan tahun, daun Dewandaru miliknya tetap berwarna hijau segar meskipun sudah lepas dari pohonnya, sebuah bukti nyata adanya kekuatan gaib yang menyokong hidupnya. Namun, di balik kenyamanan materi tersebut, Sarah hidup dalam bayang-bayang janji yang menagih nyawa, sebuah pengingat bahwa jalan pintas menuju kekayaan selalu menyimpan konsekuensi yang sangat mahal dan berdarah.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Rupiah Anjlok ke Rp17.718 per Dolar AS, Timothy Ronald Peringatkan Ancaman PHK dan Kenaikan Harga
Rupiah Tembus Rp17.713 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
Projo Bantah Inisiatif Blusukan Jokowi, Klaim Ajakan Langsung dari Mantan Presiden
Pusat Kontak Beralih ke ‘Konfigurasi sebagai Kode’ untuk Cegah Risiko Perubahan Manual di Lingkungan Produksi