PARADAPOS.COM - Pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia resmi memulai pembangunannya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Proyek senilai US$600 juta atau sekitar Rp10,2 triliun ini dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology dengan kapasitas produksi mencapai 120.000 ton per tahun. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada kuartal II 2027 ini merupakan langkah strategis dalam program hilirisasi industri nasional.
Dukungan Pemerintah dan Strategi Hilirisasi
Kehadiran pabrik ini mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah, yang melihatnya sebagai bagian integral dari penguatan daya saing industri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya proyek ini dalam peta industri nasional.
“Hal ini mencerminkan komitmen kuat kita dalam mempercepat hilirisasi industri dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” jelasnya dalam sebuah keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).
Pernyataan tersebut selaras dengan arah kebijakan pemerintah yang tertuang dalam RPJMN 2025–2029, di mana hilirisasi dan penguatan KEK menjadi prioritas. KEK Gresik sendiri ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional yang diharapkan dapat mendorong industrialisasi dan pemerataan ekonomi.
Skala Proyek dan Rencana Produksi Terintegrasi
Yang menarik dari proyek ambisius ini adalah konsep produksinya yang terintegrasi penuh. Pabrik tidak hanya akan menghasilkan melamin, tetapi akan mengolah bahan baku dari hulu ke hilir. Rencananya, fasilitas ini akan memproses gas alam menjadi amonia, kemudian mengubahnya menjadi urea, dan akhirnya menghasilkan melamin sebagai produk akhir.
Pada fase awal, konstruksi akan difokuskan pada unit produksi utama dengan kapasitas harian yang signifikan: 800 ton untuk amonia, 1.500 ton untuk urea, dan 200 ton untuk melamin. Tahap selanjutnya akan menyempurnakan infrastruktur pendukung dan mengoptimalkan seluruh rantai produksi untuk mencapai efisiensi maksimal.
Dampak Ekonomi dan Kontribusi bagi Kawasan
Pembangunan pabrik ini bukan hanya sekadar penambahan satu fasilitas industri, melainkan bagian dari transformasi ekonomi kawasan. Data kinerja KEK nasional hingga 2025 menunjukkan tren yang positif, dengan realisasi investasi kumulatif mencapai Rp336 triliun dan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249.000 orang. Dalam konteks ini, KEK Gresik telah menjadi kontributor utama, menyerap investasi Rp105,4 triliun atau sekitar 31% dari total nasional.
Dampaknya sudah terasa di tingkat regional. Sektor manufaktur menyumbang lebih dari 31% terhadap perekonomian Jawa Timur, dan perkembangan industri turut mendorong penurunan angka pengangguran di Kabupaten Gresik dari 8% menjadi 5,47% dalam kurun lima tahun terakhir.
Menyoroti kontribusi yang lebih luas, Airlangga Hartarto kembali menegaskan peran vital sektor manufaktur. “Pada tahun 2025, sektor manufaktur berkontribusi sebesar 19,07% terhadap PDB Indonesia dan menjadi penggerak utama pertumbuhan di berbagai kawasan industri,” ungkapnya.
Dengan demikian, kehadiran pabrik melamin di KEK Gresik tidak hanya mengisi celah dalam struktur industri kimia dasar Indonesia, tetapi juga diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Hotel Horison Semarang Luncurkan Paket Work From Horison untuk Pekerja Remote
Harga Emas Antam Sentuh Rp2,85 Juta per Gram pada 9 April 2026
Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7% pada 2026, Lebih Tangguh Hadapi Gejolak Energi
Gubernur Jabar Tegaskan Samsat Tak Boleh Tolak Bayar Pajak Tanpa KTP Pemilik Pertama