Hizbullah Tolak Langsung Opsi Negosiasi Israel-Lebanon

- Kamis, 09 April 2026 | 19:50 WIB
Hizbullah Tolak Langsung Opsi Negosiasi Israel-Lebanon

PARADAPOS.COM - Pemerintah Israel mengumumkan pembukaan opsi negosiasi langsung dengan Lebanon, sebuah langkah yang langsung ditolak keras oleh kelompok Hizbullah. Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, menegaskan penentangan kelompoknya terhadap rencana dialog bilateral tersebut, seraya mendesak penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon sebagai prasyarat utama.

Penolakan Tegas dari Hizbullah

Menanggapi pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, suara penolakan datang dengan cepat dari sayap politik Hizbullah. Ali Fayyad, yang mewakili kelompok tersebut di parlemen Lebanon, secara eksplisit menyatakan sikap kontra terhadap pembicaraan apa pun yang melibatkan Israel dan pemerintah Lebanon.

Dia dengan tegas menggarisbawahi posisi kelompoknya. "Kami menegaskan kembali penolakan kami terhadap negosiasi langsung antara Lebanon dan musuh Israel," ungkapnya, seperti dilaporkan kantor berita AFP pada Jumat (10/4/2026).

Prasyarat yang Diajukan

Lebih lanjut, Fayyad berargumen bahwa Lebanon sebenarnya tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk berunding dengan negara tetangganya di selatan itu. Alih-alih membuka meja perundingan, Hizbullah justru mendorong agar pemerintah di Beirut fokus pada tuntutan-tuntutan fundamental.

Dalam penjelasannya, Fayyad merinci sejumlah prinsip nasional yang harus didahulukan. "Perlunya menjunjung tinggi prinsip-prinsip nasional, yang terpenting di antaranya adalah penarikan pasikan Israel, penghentian permusuhan, dan kembalinya penduduk ke desa dan kota mereka," jelasnya.

Dia juga menambahkan bahwa kelompoknya menyerukan agar kesepakatan gencatan senjata dengan Israel diterapkan terlebih dahulu sebelum membahas kemungkinan negosiasi pada tahap berikutnya. Pernyataan ini mengisyaratkan keraguan mendalam terhadap niat Israel dan menempatkan gencatan senjata yang berkelanjutan sebagai batu ujian.

Inisiatif Israel dan Fokus Pelucutan Senjata

Di sisi lain, inisiatif untuk berunding datang langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari kantornya, Netanyahu mengaku telah menginstruksikan kabinetnya untuk memulai pembicaraan langsung dengan perwakilan Lebanon sesegera mungkin.

"Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin," bunyi pernyataan tersebut.

Namun, agenda yang diusung Israel tampak berseberangan langsung dengan tuntutan Hizbullah. Netanyahu menyatakan bahwa negosiasi akan berfokus pada upaya pelucutan senjata kelompok militan tersebut, sekaligus membangun hubungan damai antara kedua negara yang secara teknis masih berada dalam keadaan perang.

Pernyataan itu juga menyebutkan apresiasi Israel terhadap seruan Perdana Menteri Lebanon untuk demiliterisasi di Beirut, sebuah titik yang kemungkinan besar merujuk pada pengaruh dan persenjataan Hizbullah. Langkah ini memposisikan negosiasi tidak hanya sebagai upaya diplomatik bilateral, tetapi juga sebagai arena perebutan pengaruh strategis di Lebanon yang kompleks.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar