Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Sepekan Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran

- Senin, 13 April 2026 | 02:50 WIB
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Sepekan Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran

PARADAPOS.COM - Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam sepekan pada perdagangan awal Asia, Senin (13/3/2026). Penguatan luas ini terjadi menyusul kegagalan perundingan damai AS-Iran dan perintah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, yang memicu aksi jual aset berisiko di pasar keuangan global.

Dolar Menguat, Mata Uang Lain Tertekan

Sentimen "risk-off" atau menghindari risiko mendominasi pasar valuta asing pagi ini. Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, tercatat naik 0,5 persen ke level 99,187. Ini merupakan posisi tertinggi sejak 7 April lalu.

Tekanan terlihat jelas pada mayoritas mata uang utama. Euro melemah 0,5 persen ke level USD1,1667, sementara Poundsterling Inggris anjlok 0,6 persen ke USD1,3383. Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru bahkan mengalami penurunan lebih dalam, masing-masing 0,8 persen ke USD0,7014 dan 0,7 persen ke USD0,5798.

Pemicu: Kegagalan Diplomasi dan Perintah Blokade

Gejolak di pasar valas ini berakar dari perkembangan geopolitik di Teluk Persia yang berbalik arah secara dramatis. Setelah perundingan maraton gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Minggu bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade di Selat Hormuz. Keputusan ini membahayakan gencatan senjata rapuh yang baru berjalan dua pekan.

Komando Pusat AS kemudian mengonfirmasi bahwa pasukannya akan mulai memberlakukan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, efektif mulai pukul 10.00 waktu setempat pada hari Senin.

Analis dari Westpac dalam sebuah catatan riset mengamati kondisi pasar yang tipis dan reaktif pagi ini. Mereka menulis, "Perdagangan valuta asing yang tipis yang dimulai pagi ini mengisyaratkan suasana hati 'risk-off', dengan penguatan luas pada Dolar AS sebagai responsnya."

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar