PARADAPOS.COM - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk tingkat SMP di berbagai daerah mulai menunjukkan pergeseran persepsi yang signifikan. Dari yang semula dianggap sebagai ujian yang menegangkan, asesmen nasional ini kini lebih dipandang sebagai alat ukur yang konstruktif untuk memetakan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Perubahan sikap ini teramati di lapangan, salah satunya di Kabupaten Pelalawan, Riau, di mana murid-murid melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah menjalani tes.
Dari Kecemasan Menjadi Kepercayaan Diri
Di SMP Negeri Bernas, Kabupaten Pelalawan, suasana hati para peserta TKA mengalami transformasi. Banyak siswa yang mengaku awalnya dilanda kegelisahan karena belum pernah menghadapi format asesmen seperti ini. Namun, perasaan itu berangsur berganti setelah mereka menyelesaikan soal-soal yang diujikan.
“Awalnya deg-degan karena belum pernah ikut. Tapi setelah dijalani, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” tutur Fidelia Noviyanti Hutagaol, siswi kelas IX, mengenai pengalamannya pada Senin, 13 April 2026.
Pengalaman serupa diungkapkan oleh Muhammad Gafasyarianto, siswa SMP Negeri 4 Pekanbaru. Ia mengakui bahwa rasa takut yang awal perlahan berubah menjadi motivasi setelah melalui proses persiapan dan latihan yang intensif di sekolah.
“Sekarang saya jadi lebih semangat. TKA membantu mengetahui kemampuan diri,” ungkapnya.
Misi Edukatif di Balik Pelaksanaan TKA
Perubahan persepsi ini sejalan dengan tujuan utama penyelenggaraan TKA yang ditegaskan oleh otoritas pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menekankan bahwa asesmen ini dirancang bukan sebagai beban, melainkan sebagai alat diagnostik untuk mendapatkan gambaran menyeluruh kondisi belajar-mengajar.
“TKA ini seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya agar kebijakan yang diambil berbasis data,” jelas Fajar.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pendekatan baru dalam evaluasi pendidikan, yang berfokus pada pemetaan kekuatan dan area perbaikan, bukan sekadar penilaian akhir yang menegangkan.
Strategi Sekolah Menghadapi TKA
Untuk mendukung misi tersebut, berbagai sekolah menerapkan strategi khusus agar TKA tidak menjadi sumber tekanan berlebihan bagi murid. Di SMP Negeri Bernas, misalnya, latihan soal TKA diintegrasikan secara alami ke dalam aktivitas pembelajaran harian.
“Kami membahas soal TKA di jam pelajaran, sehingga anak-anak tetap belajar tanpa merasa terbebani,” kata Savitri Oktavia, salah seorang guru di sekolah tersebut.
Upaya ini terbukti efektif tidak hanya dalam mempersiapkan siswa secara akademis, tetapi juga dalam membangun mindset yang lebih positif. Kepala SMP Negeri Bernas, Marisah, mengamati adanya dampak positif terhadap kebiasaan belajar siswanya.
“TKA ini baik untuk mengukur potensi murid sekaligus kemampuan sekolah,” ujar Marisah.
Partisipasi Tinggi dan Manfaat Jangka Panjang
Di Kota Pekanbaru, pelaksanaan TKA juga berjalan lancar dengan tingkat partisipasi yang mencapai seratus persen. Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rukiah, menyebutkan bahwa materi yang diujikan selaras dengan penguatan yang telah diberikan di sekolah.
“Materi yang diujikan sesuai dengan penguatan yang sudah diberikan di sekolah, baik literasi maupun numerasi,” katanya.
Lebih lanjut, Rukiah menambahkan bahwa hasil TKA dapat berfungsi sebagai salah satu indikator penting, terutama sebagai bahan pertimbangan dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Hal ini memberikan konteks praktis dan manfaat jangka panjang dari pelaksanaan asesmen tersebut.
Membangun Kultur Belajar yang Reflektif
Secara keseluruhan, keberhasilan TKA tidak hanya ditinjau dari aspek teknis seperti kelancaran infrastruktur komputer dan jaringan. Lebih mendasar, asesmen ini telah memicu perubahan cara pandang terhadap evaluasi pendidikan. TKA mulai diterima sebagai bagian integral dari proses pembelajaran yang reflektif, yang mendorong kejujuran, kesiapan, dan keberanian setiap murid untuk mengukur kemampuannya sendiri.
Perubahan paradigma ini, yang tumbuh dari pengalaman langsung di lapangan, diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh untuk membangun budaya belajar yang lebih sehat, objektif, dan berkelanjutan di masa depan.
Artikel Terkait
Mantan Ketua MK Anwar Usman Pingsan Usai Prosesi Purnabakti
UI Selidiki Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Mahasiswa Fakultas Hukum
Paus Leo XIV Tegaskan Tak Ingin Berpolemik dengan Trump
BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Meski Masa Pancaroba Telah Dimulai