Mantan Pemulung Kini Bersekolah, Fikri (6) Sambut Hari Baru di Sumedang

- Rabu, 15 April 2026 | 13:50 WIB
Mantan Pemulung Kini Bersekolah, Fikri (6) Sambut Hari Baru di Sumedang

PARADAPOS.COM - Seorang anak berusia enam tahun bernama Fikri kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat. Bocah asal Desa Sukaraja ini sebelumnya sempat hidup bersama neneknya di Jakarta dan turun ke jalanan untuk memulung sampah plastik demi bertahan hidup. Transformasi dari membawa karung barang bekas menjadi memegang buku dan pensil menandai babak baru dalam hidupnya, berkat perhatian dan intervensi dari berbagai pihak.

Hari-Hari Baru di Ruang Kelas

Di dalam kelas, Fikri tampak sibuk mewarnai gambar dengan senyum lebar. Ia kini menjalani rutinitas layaknya anak seusianya: belajar membaca, berhitung, menggambar, dan bermain bersama teman-teman baru. Antusiasmenya terlihat saat ia mencoba permainan edukatif di papan tulis interaktif atau menyusun balok lego. Suasana sekolah yang ramah dan penuh perhatian telah menjadi lingkungan yang sama sekali baru baginya.

“Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ungkap Fikri pada Rabu, 15 April 2026.

Dukungan yang Menyeluruh

Perubahan yang dialami Fikri tidak hanya sekadar berpindah tempat. Di sekolah, ia mendapatkan makanan bergizi setiap hari, sebuah hal yang sangat berarti bagi tumbuh kembangnya. Dukungan psikologis dan rasa aman yang ia rasakan juga mulai membangun kepercayaan dirinya yang sempat hilang.

“Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” tuturnya dengan senyum.

Rasa syukur dan kebahagiaan itu bahkan ia sampaikan secara spontan. Dengan suara lantang dan wajah ceria, Fikri menyampaikan apresiasinya. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian. Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak,” ujarnya.

Perjalanan Panjang dari Jalanan

Kisah Fikri menuju bangku sekolah bukanlah cerita yang instan. Kehidupannya di jalanan telah merenggut sebagian masa kecilnya. Kondisi memprihatinkan itu akhirnya menarik perhatian aparat kepolisian, yang kemudian membantu memulangkannya ke kampung halaman di Sumedang. Titik itulah yang menjadi awal dari perubahan besar.

Pemerintah, melalui koordinasi dengan berbagai pihak, memastikan Fikri mendapatkan akses pendidikan yang layak. Pendampingan yang diberikan bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada Fikri, tetapi juga pada kondisi keluarganya. Adiknya, Naufal, kini telah didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) agar hak pendidikan keduanya terpenuhi sejak dini.

Bantuan lain pun mengalir, mencakup pemenuhan kebutuhan pokok, pengurusan dokumen kependudukan, hingga jaminan layanan kesehatan melalui BPJS. Rumah keluarganya yang sebelumnya tidak layak huni juga mendapatkan perbaikan melalui program Rutilahu, hasil kolaborasi pemerintah daerah, kepolisian, dan Palang Merah Indonesia. Untuk keberlanjutan ekonomi, sang ibu memperoleh bantuan modal usaha.

Harapan Baru dari Langkah Kecil

Kini, setiap langkah Fikri menuju kelasnya bukan sekadar rutinitas. Itu adalah simbol dari sebuah perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih terang. Dari kerasnya kehidupan jalanan, ia telah menemukan sebuah ruang aman untuk bermimpi dan bertumbuh. Ceritanya menjadi pengingat akan pentingnya sistem pendukung yang tanggap dan berkelanjutan bagi anak-anak yang paling rentan, memberikan mereka kesempatan untuk menulis ulang jalan hidupnya.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar