PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang dengan Iran telah memasuki fase akhir dan mengklaim pihak berwenang di Teheran sangat ingin berdamai. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara yang tayang Rabu (15/4), di tengah upaya diplomatik intensif untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh. Meski optimisme pasar meningkat, kesepakatan formal antara kedua negara belum tercapai.
Klaim Kemenangan Militer dan Ambisi Perdamaian
Dalam wawancara eksklusif dengan program "Mornings with Maria" di Fox Business Network, Trump dengan tegas menyampaikan penilaiannya tentang situasi di lapangan. Ia mengklaim keunggulan militer AS mutlak dan menyiratkan bahwa Iran telah mengalami kerusakan strategis yang signifikan.
“Kami telah mengalahkan mereka secara militer, sepenuhnya,” tegas Trump dalam wawancara yang direkam sebelumnya itu.
Mengembangkan argumennya, Trump menggambarkan konflik yang sedang menuju penyelesaian. Ia juga menyampaikan peringatan keras tentang konsekuensi jika AS menarik pasukan secara prematur.
“Saya pikir ini hampir berakhir, saya melihatnya sebagai sesuatu yang hampir berakhir. ... Jika saya menarik pasukan sekarang, mereka akan membutuhkan 20 tahun untuk membangun kembali negara itu, dan kami belum selesai,” lanjutnya.
Lanskap Diplomasi yang Dinamis dan Belum Pasti
Komentar Trump muncul di tengah laporan media yang saling bersilangan mengenai kemajuan diplomasi. Sejumlah outlet, mengutip sumber di kawasan, melaporkan bahwa AS dan Iran telah mencapai "kesepakatan prinsip" untuk memperpanjang gencatan senjata guna memberi ruang bagi negosiasi lebih lanjut.
Namun, narasi resmi dari Washington terasa lebih berhati-hati. Seorang pejabat senior AS, yang berbicara dengan syarat anonim, menegaskan bahwa pemerintah belum secara formal menyetujui perpanjangan tersebut.
“Ada dialog yang terus berlanjut antara AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan,” ungkap pejabat tersebut, menekankan sifat berkelanjutan dari pembicaraan yang masih berlangsung.
Dinamika ini menciptakan atmosfer ketidakpastian, meski ada indikasi bahwa putaran negosiasi baru mungkin segera dibuka. Trump sendiri, dalam kesempatan terpisah, menyebut kemungkinan pembicaraan lanjutan di Islamabad akan terjadi dalam hitungan hari.
Proyeksi Pasar dan Pembelaan atas Kebijakan
Di luar pembahasan militer dan diplomasi, Trump juga menyentuh dampak ekonomi dari konflik ini. Dalam wawancara yang sama, ia meremehkan gejolak pasar global yang dipicu oleh perang dan menyatakan keyakinannya bahwa kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara.
Membela operasi militernya, Presiden AS itu kembali pada argumen inti yang sering ia kemukakan mengenai program nuklir Iran.
“Kita harus menghentikan mereka agar tidak pernah memiliki senjata nuklir,” jelas Trump.
Ia bahkan menyampaikan prediksi optimis untuk pasar keuangan, mengaitkan prospek perdamaian dengan kinerja bursa.
"Saat ini bursa saham sudah booming," ujarnya, sambil memprediksi pelonjakan lebih lanjut begitu perang benar-benar berakhir.
Pernyataan-pernyataan ini menggambarkan upaya Trump untuk menyeimbangkan narasi kekuatan militer dengan prospek stabilitas ekonomi, di tengah situasi geopolitik yang masih terus berkembang dan penuh kehati-hatian.
Artikel Terkait
Harga Pupuk Urea Global Melonjak 86% Didorong Biaya Gas Alam dan Gangguan di Selat Hormuz
Bank Mandiri Tinjau PLTGU Muara Tawar dan Dukung Pasar Karbon
PN Padang Tegaskan Eksekusi Lahan Flyover Sitinjau Lauik Sah, Siap Tampung Keberatan Pihak Ketiga
Pengendara Motor Tewas Tertindas Bus Saat Manuver di Flyover Pesing