PARADAPOS.COM - Sebuah helikopter H130 milik PT Matthew Air dengan registrasi PK-CFX mengalami kecelakaan di kawasan perbukitan terpencil di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Kamis (16/4). Insiden yang menewaskan seluruh delapan orang di dalamnya pertama kali diketahui warga setempat yang mendengar ledakan keras sebelum menemukan serpihan pesawat. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seluruh jenazah setelah melalui medan berat, sementara investigasi penyebab kecelakaan kini dipimpin oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Laporan Warga dan Medan Evakuasi yang Berat
Suasana hutan di Bukit Puntak, Desa Tapang Tingang, tiba-tiba pecah oleh dentuman keras pada Kamis siang. Yohanes, seorang warga yang sedang bekerja, adalah salah satu yang mendengar suara ledakan tersebut. Ia menggambarkan momen menegangkan itu sebelum akhirnya mendapat kabar tentang puing pesawat dari warga lain.
"Saya mendengar ledakan besar saat sedang memotong kayu, saya dan rekan kerja juga merasakan kapal terbangnya (helikopter) itu seperti terbang rendah. Tidak lama kemudian, saya diberi tahu oleh Along bahwa ada puing-puing pesawat beserta korban. Setelah itu kami langsung melaporkan kepada petugas untuk segera dilakukan evakuasi," tutur Yohanes saat ditemui di lokasi kejadian.
Along, warga yang pertama kali melihat lokasi jatuh, mengisahkan bahwa indra penciumannya yang membimbingnya. Bau bahan bakar aviasi yang kuat di tengah hutan membuatnya penasaran.
"Saya sedang mencari tupai, lalu mencium aroma bahan bakar. Saya kemudian memanjat pohon untuk melihat, dan terlihat serpihan besar di bawah dengan kondisi ada orang di dalamnya, meski tidak terlalu jelas. Saya tidak berani mendekat dan langsung memanggil warga lain serta melaporkannya ke petugas," jelasnya.
Berkas laporan warga yang sigap itu, tim SAR dapat menemukan lokasi dengan lebih cepat. Namun, perjalanan evakuasi justru menjadi tantangan tersendiri. Medan yang gelap, licin, curam, dan berbatu menghadang perjalanan tim membawa korban menuju posko.
"Jarak dari TKP ke lokasi Posko sekitar 2.5 jam berjalan kaki dengan kondisi gelap, jalan licin curam, dan berbatuan," sebut Kabid Humas Polda Metro Kalimantan Barat, Kombes Pol Bambang Suharyono.
Dengan usaha keras, seluruh jenazah akhirnya berhasil dibawa keluar dari badan helikopter pada dini hari pukul 02.30 WIB dan tiba di Posko Hulu Peniti sekitar pukul 04.52 WIB. Delapan mobil ambulans kemudian membawa korban menuju Kompi B Yonif 642 sebelum diangkut helikopter ke RS Bhayangkara Pontianak untuk proses identifikasi.
Proses Identifikasi dan Duka Keluarga
Di rumah sakit, tim gabungan dokter dan DVI Polda Kalbar segera memulai pekerjaan penting untuk mengidentifikasi para korban. Kombes Pol J. Ginting, Karumkit RS Bhayangkara Pontianak, menyatakan bahwa seluruh bukti fisik dari TKP telah dibawa untuk melengkapi proses ini.
"Apa yang ditemukan oleh tim di TKP sudah dibawa untuk melengkapi identifikasi," kata Ginting kepada awak media.
Suasana duka sudah terasa di rumah sakit. Sejumlah keluarga korban terlihat telah menunggu dan mendatangi pos antemortem, memberikan data yang diperlukan untuk memastikan identitas anggota keluarga mereka yang menjadi korban. Satu dari delapan korban diketahui merupakan warga negara Malaysia bernama Patrick Kee Chuan Peng.
Investigasi KNKT Dimulai, Penyebab Masih Ditelusuri
Di sisi lain, upaya untuk mengungkap akar permasalahan kecelakaan telah dimulai secara sistematis. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), lembaga independen yang berwenang dalam penyelidikan kecelakaan transportasi, langsung bergerak setelah helikopter dilaporkan hilang.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, memaparkan bahwa timnya telah mengumpulkan data awal terkait kru, lisensi, dan riwayat perawatan pesawat dari operator dan regulator.
"Investigasinya mulai dari kemarin sejak helikopter hilang. Kita ngumpul-ngumpulin nama krunya, terus license-nya nomornya berapa, terus kita minta data-data pendukung dari operator, dari regulator, terus dari hasil apa, cek yang setiap enam bulanan seperti apa," ungkap Soerjanto.
Tim investigator lapangan KNKT telah tiba di Pontianak dan bersiap mendatangi lokasi kejadian yang sulit dijangkau. Fokus awal investigasi lapangan adalah mengamankan komponen-komponen kritis helikopter untuk dianalisis lebih lanjut di Jakarta.
"Yang menjadi concern untuk komponen-komponen helikopter yang bisa dibawa untuk investigasi nanti kita kumpulkan terus nanti kita kirim ke Jakarta untuk dievaluasi lebih lanjut," sebutnya.
Proses penyelidikan yang komprehensif juga akan melibatkan wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait, mulai dari personel perawatan, manajemen, dispatcher, hingga komunikasi dengan pabrikan helikopter. Soerjanto menekankan bahwa kesimpulan pasti mengenai penyebab kecelakaan hanya dapat diberikan setelah seluruh tahapan investigasi yang metodologis ini selesai, dengan durasi waktu yang belum dapat dipastikan.
Artikel Terkait
DPR Imbau Pemerintah Hati-hati Tanggapi Ancaman Blokir Wikipedia
Harga Emas Antam Naik Rp26.000 per Gram, Sentimen Positif Seret Seluruh Ukuran
Kominfo Bekukan Verifikasi IGRS Usai Diduga Bocorkan Game Belum Rilis
Shelter Indonesia Transformasi dari Penyedia Tenaga Kerja Jadi Mitra Strategis