Perundingan Damai AS-Iran Masih Alot, Teheran Peringatkan Tak Akan Teken Kesepakatan Sembarangan

- Senin, 01 Juni 2026 | 15:25 WIB
Perundingan Damai AS-Iran Masih Alot, Teheran Peringatkan Tak Akan Teken Kesepakatan Sembarangan

PARADAPOS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum mereda, tiga bulan setelah konflik bersenjata pecah pada 28 Februari 2026. Perang ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel yang menargetkan infrastruktur militer Iran dan mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun perundingan damai tingkat tinggi telah digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11 April lalu, kesepakatan bersama belum juga tercapai. Kedua pihak masih saling serang, baik secara verbal maupun militer, di tengah alotnya negosiasi yang sudah berlangsung lebih dari sebulan.

Perundingan Damai yang Berlarut-larut

Upaya penyelesaian konflik sebenarnya sudah dimulai sejak awal April. Namun, prosesnya tidak berjalan mulus. Gencatan senjata sempat diberlakukan beberapa kali, namun selalu berakhir dengan pelanggaran. Negosiasi damai berkali-kali dilanjutkan, tetapi hingga kini belum ada titik terang yang bisa mengakhiri pertumpahan darah.

Diplomasi keras, saling ancam, dan baku serang tak terelakkan masih mewarnai setiap sesi perundingan. Kedua pihak kukuh pada pendiriannya masing-masing. Tawaran yang diajukan satu sama lain kerap dianggap tidak masuk akal oleh pihak lawan.

Sikap Tegas Teheran

Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai ketua parlemen, angkat bicara mengenai kebuntuan ini. Ia menyampaikan peringatan keras kepada Washington. Dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan begitu saja menyetujui kesepakatan.

"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf, seperti dikutip dari laporan AFP pada Senin (1/6/2026).

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya". Pernyataan ini mencerminkan tingkat kecurigaan yang mendalam terhadap AS, terutama setelah adanya laporan tentang perubahan sikap Washington.

Manuver Baru dari Washington

Pernyataan keras Ghalibaf itu muncul setelah beredar laporan dari media-media AS, seperti New York Times (NYT) dan Axios, pada Sabtu (30/5). Laporan tersebut menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan kepada Iran. Isinya disebut-sebut memuat persyaratan yang "lebih keras" dari sebelumnya. Langkah ini justru semakin mempersulit jalan menuju meja damai, alih-alih membuka peluang baru.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar