Fenomena Lagu Mas Bahlil Ganteng Dinilai Jadi Alat Politik Efektif Menjelang Pemilu 2029

- Senin, 01 Juni 2026 | 15:25 WIB
Fenomena Lagu Mas Bahlil Ganteng Dinilai Jadi Alat Politik Efektif Menjelang Pemilu 2029
PARADAPOS.COM - Popularitas Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meroket dalam beberapa pekan terakhir berkat sebuah lagu berjudul "Mas Bahlil Ganteng" atau yang akrab disingkat MBG. Lagu yang hingga kini belum diketahui siapa penciptanya itu mendominasi berbagai platform media sosial, mulai dari Instagram, TikTok, hingga Facebook. Fenomena ini tidak hanya sekadar hiburan; lagu tersebut juga telah digunakan sebagai latar suara untuk konten promosi produk UMKM dan berbagai aktivitas kreatif netizen lainnya. Menurut pengamat politik dan tokoh muda Partai Golkar, Aisah Hamim, gelombang popularitas ini menjadi angin segar bagi Bahlil dan partainya di tengah hiruk-pikuk politik nasional.

Gaya Komunikasi yang Unik dan Ramah

Aisah Hamim menilai bahwa kepribadian Bahlil menjadi faktor kunci di balik penerimaan luas lagu MBG. Ia menyebutkan bahwa sang ketua umum memiliki karakter yang jarang ditemukan pada pemimpin lainnya. "Menurut saya beliau adalah pribadi yang unik, ramah, punya gaya yang asik. Semua orang tau bahwa Kanda Bahlil selalu mempunyai gaya tersendiri, gaya yang ramah dan panggilan yang akrab yg biasa digunakan di kalangan HMI dan HIPMI yang seringkali memanggil dinda kepada juniornya, dan panggilan kanda untuk seniornya," kata Aisah dalam keterangannya, Senin, 1 Juni 2026. Lebih lanjut, Aisah menjelaskan bahwa gaya komunikasi Bahlil yang jenaka dan luwes membuat lagu MBG mudah diterima oleh semua kalangan, dari anak muda hingga orang dewasa. Ia menambahkan, berkat lagu ini, tensi politik yang selama ini terasa memanas bisa sedikit mereda dan menjadi lebih sejuk dengan pendekatan kreatif. "Gaya komunikasi yang luwes ini sangat baik digunakan agar suasana tampak akrab dan dekat secara emosional. Tidak semua pemimpin mempunyai karakter dan gaya seperti ini. Dan gaya ini perlu ditiru oleh tokoh lainnya agar komunikasi politik bisa lebih cair dan menggembirakan," tuturnya.

Sapaan "Kanda" dan "Dinda" Menjadi Tren Baru

Menariknya, sapaan "Kanda" yang kerap digunakan Bahlil dan dibalas dengan "Dinda" oleh para pendukungnya kini tidak lagi terbatas di lingkungan internal HMI dan HIPMI. Sapaan ini mulai lazim digunakan di ruang publik untuk menyapa sahabat, rekan, dan bahkan menjadi tren baru dalam komunikasi politik. Aisah menilai bahwa berkat peran platform digital, konten-konten Bahlil semakin dikenal luas oleh khalayak umum. "Apalagi berkat peran platform digital saat ini, sehingga konten Kanda Bahlil ini lebih terkenal lagi, dengan gaya yang unik dimiliki Kanda Bahlil, serta gaya ramah dan asik. Kanda Bahlil tetap tampil santai dengan gaya dan senyumannya yang khas bikin nambah manis senyuman Kanda Bahlil, persis seperti kata lagunya Buah apa yang paling manis, Buaaahlil," tambahnya.

Fenomena MBG sebagai Alat Marketing Politik

Aisah juga menyoroti dampak strategis dari viralnya lagu MBG bagi Partai Golkar. Menurutnya, fenomena ini bisa menjadi pemicu atau trigger bagi partai berlambang pohon beringin tersebut untuk melakukan promosi efektif menjelang kontestasi Pemilu 2029. "Kalau dilihat dari ilmu political marketing dan political communication, fenomena lagu MBG yang viral itu bisa dikaitkan dengan beberapa teori sekaligus," jelasnya. Ia memaparkan setidaknya tiga teori yang relevan. Pertama, "Political Branding", di mana tokoh atau partai dibangun seperti sebuah merek. Nama yang sering muncul, mudah diingat, dan dekat dengan budaya populer akan lebih melekat di pikiran publik. Kedua, teori "Meme Politics" atau "Meme-ification of Politics", yaitu ketika tokoh politik menjadi bagian dari budaya meme internet. Humor, lagu viral, parodi, dan konten absurd justru membuat figur politik lebih dikenal oleh generasi muda dibandingkan kampanye formal. Ketiga, konsep "Affective Politics" atau politik emosional. Orang tidak selalu mengingat program, tetapi mereka mengingat emosi yang muncul dari sebuah simbol, lagu, atau tokoh. Sound MBG yang lucu dan mudah diingat menciptakan kedekatan emosional, meskipun banyak orang awalnya hanya ikut tren. "Kalau dikaitkan dengan Partai Golongan Karya dan Bahlil Lahadalia, secara teori memang ada kemungkinan terjadi "brand amplification" (penguatan merek politik). Nama tokoh menjadi lebih dikenal, tingkat "awareness" meningkat, dan citra 'dekat dengan anak muda' bisa terbentuk tanpa biaya kampanye konvensional yang besar," tutupnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar