Kisah Intel Kopassus Menyusup ke Jantung GAM dengan Menyamar Jadi Pedagang Durian

- Jumat, 17 April 2026 | 23:00 WIB
Kisah Intel Kopassus Menyusup ke Jantung GAM dengan Menyamar Jadi Pedagang Durian
Kisah Intel Kopassus Menyusup ke Jantung GAM: Dari Tukang Durian hingga Pelindung Keluarga Petinggi

PARADAPOS.COM - Seorang anggota Kopassus berhasil menyusup jauh ke dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada masa konflik dengan menyamar sebagai pedagang durian. Dengan identitas samaran Sersan Badri, ia melakukan perjalanan berisiko tinggi dari Medan ke Lhokseumawe, membangun kepercayaan secara perlahan, hingga akhirnya berhasil merangkul keluarga inti para pemimpin separatis, termasuk menyembunyikan istri salah seorang panglima mereka.

Menyamar di Tengah Medan Konflik

Pada puncak ketegangan di Aceh, operasi intelijen lapangan menjadi kunci. Salah satu tantangan terberat adalah memasuki komunitas yang tertutup dan trauma akibat konflik berkepanjangan. Untuk itu, Sersan Badri dari satuan Sandi Yudha Kopassus menciptakan persona sebagai seorang tukang buah Aceh perantauan. Penyamaran ini memberinya alasan logis untuk bergerak leluasa antara Medan dan basis-basis GAM di Lhokseumawe, sekaligus menjadi pintu masuk untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk anggota gerakan tersebut.

Perjalanan penyamaran itu penuh dengan momen-momen genting yang menguji mental dan kelincahannya. Ia harus melewati berbagai pos pemeriksaan, di mana kewaspadaan aparat keamanan dan kelompok bersenjata sama-sama tinggi.

"Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe," tutur Sersan Badri, mengisahkan awal misinya.

Suatu kali, upayanya berbagi sedikit buah justru memicu kecurigaan. "Saya beri dua buah durian justru dimarahi lalu ditempeleng. Katanya, kalau untuk GAM pasti saya memberi banyak. Di sini ada satu peleton anggota yang berjaga, mana cukup kalau cuma dua buah durian," ujarnya, menirukan keluhan aparat di pos tersebut.

Membangun Kepercayaan, Merangkul Keluarga

Proses infiltrasi tidak terjadi dalam semalam. Badri menghabiskan waktu sekitar setahun untuk memetakan situasi secara mendetail dan, yang lebih penting, membangun jaringan kepercayaan dari dalam. Strateginya berfokus pada pendekatan manusiawi, dengan merangkul keluarga terdekat para petinggi GAM. Satu per satu, melalui interaksi yang tampak biasa sebagai pedagang yang membantu, ia berhasil mendekati para istri, orang tua, mertua, hingga anak-anak dari keluarga inti gerakan tersebut.

Lambat laun, mereka mulai bergantung pada bantuan dan peran Badri. Posisinya pun semakin kuat, dianggap sebagai "pejuang" GAM yang sebenarnya adalah petinggi TNI yang menyamar. Kepercayaan yang dibangunnya sedemikian dalam, hingga memuncak pada sebuah permintaan yang sangat personal dan berisiko tinggi.

Puncak Kepercayaan: Menjadi Pelindung Istri Panglima

Bukti keberhasilan infiltrasi Sersan Badri terlihat jelas ketika ia diberi tanggung jawab untuk menyembunyikan istri salah seorang panglima GAM. Momen ini bukan sekadar tugas intelijen biasa, melainkan indikasi bahwa ia telah diterima sepenuhnya di lingkaran paling dalam. Tugas semacam itu hanya diberikan kepada orang yang diyakini memiliki loyalitas tanpa syarat kepada perjuangan mereka.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu episode paling berkesan dalam misinya, sekaligus menunjukkan kompleksitas operasi di lapangan yang melampaui sekadar pengumpulan data. Operasi ini mengandalkan kesabaran, pemahaman psikologis, dan kemampuan beradaptasi di tengah lingkungan yang sangat berbahaya. Kisah Sersan Badri memberikan gambaran nyata tentang dimensi manusia dan taktik non-konvensional yang turut berperan dalam upaya penyelesaian konflik di Aceh.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar