Pakar Peternakan UMM: Cek Fisik Hewan Kurban Tentukan Sah atau Tidaknya Ibadah

- Minggu, 10 Mei 2026 | 09:50 WIB
Pakar Peternakan UMM: Cek Fisik Hewan Kurban Tentukan Sah atau Tidaknya Ibadah
PARADAPOS.COM - Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai meningkat di berbagai daerah. Masyarakat kerap tergiur dengan ukuran tubuh yang besar atau harga yang mahal, namun pakar peternakan mengingatkan bahwa faktor kesehatan hewan jauh lebih krusial. Lili Zalizar, Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menekankan bahwa kondisi fisik hewan menentukan sah tidaknya ibadah kurban secara syariat serta keamanan daging yang akan dikonsumsi. Melalui panduan sederhana, masyarakat dapat mendeteksi kesehatan hewan kurban hanya dengan pengamatan fisik tanpa alat khusus.

Amati Postur dan Cara Berdiri Hewan

Langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli, menurut Lili, adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan mampu berdiri tegak tanpa menunjukkan tanda pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk kepincangan, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut ketentuan syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit menjadi indikator penting lainnya. "Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh," terangnya.

Cek Kebersihan Kulit dan Waspadai Penyakit Menular

Lili melanjutkan, kulit hewan harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau skabies. Pilihlah hewan kurban dengan kulit yang mulus dan tidak menunjukkan luka atau keropeng. Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. "Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban," katanya. Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. "Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba," tuturnya.

Pastikan Masa Istirahat Hewan Sebelum Disembelih

Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, Lili berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar