PARADAPOS.COM - Di atas riak Selat Makassar, Kelurahan Bontang Kuala di Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur, berdiri sebagai perkampungan nelayan terapung yang telah dihuni sejak 1789. Kawasan seluas 627 hektare dengan 11 RT di atas air dan sembilan RT di daratan ini menolak kehadiran mobil, menjadikan jembatan kayu ulin sebagai satu-satunya jalan yang menghubungkan aktivitas warga. Berawal dari pemukiman suku Bajau di bawah Kesultanan Kutai, kawasan ini kini berkembang menjadi desa wisata budaya yang masuk peringkat 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, dengan kuliner khas gami bawis dan terasi udang sebagai daya tarik utamanya. Menapaki Jembatan Ulin yang Hidup Berjalan menyusuri gang-gang kampung terapung ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah petualangan sensorik. Di bawah pijakan kaki, derit jembatan ulin menceritakan sejarah panjang daya tahan masyarakat pesisir. Kayu besi ini justru semakin kokoh ketika terendam air laut, menjadi fondasi utama kehidupan warga. Di sekeliling, aroma khas laut berpadu selaras dengan wangi terasi udang yang dijemur, kepak sayap burung di rimbunnya mangrove, serta senyum ramah para nelayan. Ketika air laut surut, pemandangan di kolong rumah panggung menjadi tontonan tersendiri. Tiang-tiang ulin penyangga rumah tampak berselimut kerang liar dan teritip. Kepiting-kepiting kecil berlarian di antara tanaman bakau di sela-sela jembatan, sementara air muara sungai yang berwarna kuning kecokelatan mengalir tenang menuju laut lepas. Sejarah Panjang di Atas Laut Bontang Kuala tidak tumbuh dari ruang hampa. Di balik statusnya sebagai desa wisata budaya, tersimpan kisah sejarah panjang yang membuatnya berbeda dari wilayah lain di Kota Bontang. Kawasan ini telah ada sebagai perkampungan nelayan tradisional sejak sekitar tahun 1789 di bawah naungan Kesultanan Kutai, kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada masa kolonial Belanda pada 1920, ditandai dengan berdirinya kantor wedana pada 1923. Menurut penuturan Jafar, tokoh dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Abadi, kawasan terapung ini merupakan cikal bakal berdirinya pemerintahan pertama di Bontang. "Suku pertama yang datang, merintis, dan mendirikan pemukiman di teluk pesisir timur ini adalah suku Bajau. Suku pengembara laut ini memilih perairan tenang di Bontang Kuala untuk membangun rumah panggung pertama mereka, menggantungkan kelangsungan hidup sepenuhnya dari hasil laut," jelas Jafar. Keterikatan sejarah dengan suku Bajau mewariskan karakter budaya yang kuat bagi masyarakat Bontang Kuala. Meskipun populasi kelurahan terus bertambah dan kini dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku, identitas sebagai kampung nelayan Bajau tetap dijaga dengan bangga. Transportasi Unik di Lorong Kayu Berbeda dengan jalanan perkotaan pada umumnya yang bising oleh deru kendaraan, atmosfer di Bontang Kuala dipenuhi kedamaian. Kendaraan roda empat atau mobil dilarang melintas di kawasan terapung ini. Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menjelaskan bahwa seluruh mobil pengunjung maupun warga harus diparkir di area luar, tepat di depan gerbang utama. "Seluruh mobil pengunjung maupun warga harus diparkir di area luar, tepat di depan gerbang utama. Ini membiarkan lorong-lorong kayu ulin menjadi ruang yang aman bagi pejalan kaki dan pengendara roda dua," terang lurah setempat. Bagi wisatawan yang lelah atau enggan berjalan kaki menyusuri labirin jembatan ulin, warga lokal menawarkan solusi transportasi yang memudahkan. Di dekat area parkir gerbang depan, berjejer kendaraan roda tiga khas yang dinamakan BMW (Becak Motor Wisata). Dengan tarif terjangkau sekitar Rp20.000 per perjalanan keliling, pengemudi becak lokal siap membawa pengunjung membelah perkampungan terapung ini hingga ke tepi laut. Di atas becak motor berukuran kecil ini, terpaan angin laut di wajah terasa sangat menyegarkan, membawa wisatawan hanyut dalam kehangatan aktivitas harian warga pesisir. Kuliner Khas yang Melegenda Salah satu daya tarik terkuat Bontang Kuala yang selalu membekas di ingatan pengunjung adalah keunikan kuliner dan ekonomi kreatifnya. Di sepanjang lorong jembatan ulin, terutama pada siang hari yang terik, pemandangan para ibu nelayan menjemur hasil laut menjadi pemandangan yang umum. Di atas rak-rak bambu, ikan asin berkualitas diatur rapi bersebelahan dengan tumpukan rumput laut basah yang dikeringkan. Komoditas ekonomi kreatif yang paling melegenda dari Bontang Kuala adalah terasi udang khas. Terbuat dari udang rebon segar pilihan hasil tangkapan nelayan, terasi ini diolah secara tradisional tanpa bahan pengawet kimia. Proses penjemuran bahan terasi menghasilkan aroma khas pesisir yang harum dan gurih, menjadikannya produk oleh-oleh andalan dari dapur para ibu nelayan. Saat senja mulai turun, warung-warung makan terapung di sepanjang tepi laut mulai dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati hidangan ikonik: gami. Kuliner legendaris ini menyajikan seafood segar seperti ikan bawis, cumi, atau udang yang dimasak bersama sambal cabai dan tomat langsung di atas cobek tanah liat membara. Sambal gami yang meletup-letup panas dan disajikan langsung dari tungku pembakaran menawarkan cita rasa pedas gurih yang berpadu sempurna dengan kesegaran seafood tangkapan hari itu. Menyantap gami di warung makan terapung sambil menikmati semilir angin laut dan menatap perahu nelayan yang bersandar merupakan pengalaman kuliner yang tiada tandingnya. Untuk meningkatkan daya saing di era ekonomi digital, pemerintah kelurahan kini aktif mendorong para pelaku UMKM lokal untuk memperkuat kualitas produk melalui pengurusan nomor izin usaha serta sertifikasi halal. Kesadaran lingkungan pun mulai tumbuh melalui inisiatif pemanfaatan limbah seperti kulit kerang yang diolah kembali menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Menghormati Alam di Gerbang Petualangan Bontang Kuala adalah gerbang petualangan bagi siapa saja yang mengagumi keindahan alam bahari. Dari dermaga terapung, para pelancong dapat menyewa perahu ketinting tradisional milik nelayan setempat untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata alam di sekitar perairan pesisir. Keindahan alam daratan juga tersaji lewat rimbunnya hutan bakau (mangrove) yang membentang luas mengitari pemukiman. Vegetasi mangrove yang lebat berfungsi sebagai benteng alami pelindung pesisir dari abrasi, sekaligus menjadi habitat berkembang biak bagi berbagai spesies ikan dan kepiting bakau. Namun, hidup berdampingan dengan alam liar di Bontang Kuala juga menuntut kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan alam. Di beberapa persimpangan jembatan ulin menuju arah muara, pengunjung akan disambut oleh plang peringatan: "Gigitan buaya muara tak seindah gigitan buaya darat." Plang tersebut bukan sekadar humor, melainkan peringatan nyata bahwa perairan muara di sekitar hutan bakau merupakan habitat alami buaya muara yang rawan. Anjungan Senja dan Prestasi Nasional Ketika malam tiba, suasana di Bontang Kuala justru semakin hangat dan hidup. Di ujung jembatan ulin yang menghadap langsung ke laut lepas, area berkumpul yang dikenal sebagai "Anjungan" menjadi pusat interaksi sosial warga. Di area terbuka ini, deretan angkringan dan tempat nongkrong terapung ramai dikunjungi warga lokal serta wisatawan yang ingin melepas penat setelah seharian beraktivitas. Sambil duduk santai di atas ayunan kayu, menyeruput kopi hangat, dan menikmati hidangan laut, para pengunjung hanyut dalam kebersamaan yang tulus di bawah langit malam pesisir. Seluruh potensi keindahan alam, kekayaan budaya, ketangguhan ekonomi kreatif, serta keramahan warganya telah membawa perkampungan terapung ini mengukir prestasi luar biasa di tingkat nasional. Pada tahun 2022, Kelurahan Bontang Kuala berhasil menembus peringkat 300 besar dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Prestasi ini melahirkan kebanggaan mendalam sekaligus harapan baru bagi seluruh warga pesisir. Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menyampaikan harapan besarnya agar seluruh elemen masyarakat, pemuda kreatif, Pokdarwis, serta pemerintah kota dan provinsi terus memperkuat sinergi dalam mengembangkan pariwisata daerah. Bontang Kuala optimistis dapat tumbuh menjadi destinasi wisata yang mendunia tanpa kehilangan kehangatan dan kesederhanaan identitas aslinya sebagai kampung nelayan terapung.
Artikel Terkait
BMKG: Jakarta Cerah Berawan Akhir Pekan di Tengah Peringatan El Nino Ekstrem
Menkomdigi Sambut Baik Investasi AI Factory 1 GW di Batang, Disebut yang Terbesar di Asia Tenggara
TNBTS Tutup Total Seluruh Akses Gunung Bromo Mulai Sabtu Malam Akibat Kebakaran Hutan di Kaldera
Lanal Tual Tanamkan Karakter dan Wawasan Kebangsaan kepada 99 Siswa Sekolah Rakyat