Bhima Kritik Prabowo Anggap Enteng Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS

- Sabtu, 16 Mei 2026 | 23:25 WIB
Bhima Kritik Prabowo Anggap Enteng Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS
PARADAPOS.COM - Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kepala negara dinilai terlalu meremehkan pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini telah menyentuh titik terendah sepanjang masa di level Rp17.600 per Dolar AS. Kritik ini disampaikan Bhima di Jakarta pada Sabtu, 16 Mei 2026, di tengah gejolak ekonomi global yang kian tidak menentu.

Kritik Terhadap Sikap Pemerintah

Bhima menegaskan bahwa situasi ekonomi global saat ini seharusnya direspons dengan langkah antisipasi yang serius. Bukan malah menyepelekan dampaknya terhadap masyarakat luas. “Jadi kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang, yang harusnya di banyak negara pemimpin-pemimpinnya itu mempersiapkan kondisi yang terburuk dengan stimulus, mempersiapkan publik,” kata Bhima kepada RMOL di Jakarta pada Sabtu, 16 Mei 2026. Ia pun menyayangkan respons Presiden yang justru bernada menantang di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Sikap seperti ini, menurut Bhima, sangat berbahaya. “Nah di Indonesia ini seolah justru menantang, menantang tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap-sikap dan cara komunikasi seperti itu sangat-sangat membahayakan,” tambahnya.

Dampak di Tingkat Desa

Bhima juga mengkritik pernyataan Prabowo yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak akan terdampak pelemahan Rupiah. Alasannya, mereka tidak menggunakan Dolar dalam transaksi sehari-hari. “Jangan dikira pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, yang Rp17.600 itu, itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” tegasnya. Menurut Bhima, ketergantungan Indonesia terhadap sistem ekonomi global membuat dampak pelemahan Rupiah sulit dihindari. Efeknya akan terasa pada harga energi dan kebutuhan pokok masyarakat.

Perbandingan dengan Krisis 1998

Dalam analisisnya, Bhima membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998. Menurutnya, situasi sekarang jauh lebih kompleks. “Indonesia ini kan makin terintegrasi ke dalam sistem ekonomi global dibandingkan tahun 98 dong. Kalau tahun 98 pada saat terjadi krisis harga minyak tanah naiknya tajam, orang bisa beralih ke kayu bakar,” ungkap dia. “Tapi sekarang kayu bakarnya dari mana? Maka transmisi dari krisis energi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah ini adalah efek yang mematikan bagi LPG dan harga-harga kebutuhan pokok,” pungkasnya.

Pernyataan Presiden Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto secara terpisah menyampaikan pandangannya mengenai fluktuasi nilai tukar. Ia meminta masyarakat desa untuk tidak terlalu memikirkan kurs Dolar AS. “Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini