PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto menargetkan cakupan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai 82,3 juta orang sebelum akhir 2026. Target ambisius ini disampaikan langsung oleh Presiden dalam acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU, yang disiarkan secara daring pada Minggu (8/2). Saat ini, program yang menjadi salah satu prioritas pemerintah itu telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Percepatan Pencapaian dan Target ke Depan
Pencapaian menyalurkan bantuan kepada lebih dari 60 juta anak-anak, ibu, dan lansia tersebut, menurut Presiden, diraih dalam tempo yang terhitung singkat. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa program ini telah berkembang menjadi salah satu program perlindungan sosial terbesar di Indonesia dalam waktu kurang dari satu setengah tahun.
“Saudara-saudara sekalian, kita sudah sampai hari ini memberi makan kepada 60 juta lebih penerima manfaat di seluruh Indonesia,” ungkap Prabowo.
Ia menambahkan, “Dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, kita sudah bisa memberi makan kepada 60 juta anak-anak, ibu-ibu, dan orang-orang tua.”
Pemerintah tidak berencana berpuas diri dengan angka tersebut. Dengan optimisme yang tinggi, Presiden menegaskan komitmen untuk terus memperluas jangkauan program hingga menyentuh semua kelompok masyarakat yang berhak.
“Dan insyaallah sebelum akhir tahun 2026 ini, kita akan sampai 82,3 juta yang berhak,” tegasnya.
Latar Belakang dan Perbandingan Internasional
Sebelum pengumuman ini, catatan pada awal tahun 2025 menunjukkan program MBG telah mencapai 55 juta penerima. Presiden kerap memaparkan bahwa pencapaian Indonesia ini terlihat signifikan bila dibandingkan dengan pengalaman negara lain. Ia menyebut Brasil, yang butuh waktu 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima, sebagai perbandingan.
Di balik kebijakan ini, terdapat keprihatinan mendalam yang menjadi pemicunya. Prabowo berkisah bahwa ide pemberian makan bergizi ini berawal dari pengamatannya langsung di lapangan, di mana ia kerap menyaksikan anak-anak di pedesaan dengan kondisi tubuh yang tidak sesuai usianya akibat masalah gizi.
Berangkat dari keprihatinan itu, dilakukanlah serangkaian kajian mendalam dan studi banding kebijakan ke sejumlah negara. India, yang dikenal dengan komitmennya mengalokasikan anggaran negara untuk program gizi masyarakat, menjadi salah satu rujukan utama dalam merancang program MBG di Indonesia.
Artikel Terkait
Selebritas Ambon Gilcan Diterpa Kontroversi Video 54 Detik Usai Ungkap Tarif Endorse Rp1,5 Juta per Menit
Pengacara Klaim Denada Memiliki Tiga Anak, Bukan Dua
Korban Penganiayaan Ungkap Keterlibatan Bahar bin Smith dalam Aksi Solidaritas Ansor-Banser
Rekaman CCTV Pria Bawa Karung Besar di Tambora Picu Dugaan Warga