PARADAPOS.COM - Serangan militer Israel di Lebanon selatan pada Jumat malam waktu setempat menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk tiga petugas medis. Insiden ini terjadi di tengah pengumuman Amerika Serikat mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 45 hari ke depan. Serangan tersebut dilaporkan oleh Sweden Herald pada Sabtu, 16 Mei 2026, dan menambah daftar panjang pelanggaran yang saling dituduhkan kedua belah pihak sejak kesepakatan damai mulai berlaku.
Korban dan Target Serangan
Di antara korban jiwa, tiga di antaranya adalah tenaga medis yang tengah bertugas di lapangan. Militer Israel menyatakan bahwa serangan pada Jumat malam itu menyasar target-target yang dinilai memiliki keterkaitan dengan kelompok Hizbullah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Lebanon mengenai identitas korban secara keseluruhan.
Ketegangan di perbatasan selatan Lebanon memang tak pernah benar-benar mereda. Meski gencatan senjata telah diperpanjang, Hizbullah diketahui tidak dilibatkan dalam proses negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Situasi ini membuat implementasi gencatan senjata di lapangan terus diuji.
Kronologi Meningkatnya Ketegangan
Konflik terbuka antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah kelompok tersebut melancarkan serangan ke wilayah Israel pada 2 Maret lalu. Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut aksi itu sebagai respons atas serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari sebelumnya.
“Serangan ini adalah bentuk balasan atas agresi asing terhadap Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi Hizbullah kala itu.
Sebagai reaksi, Israel meningkatkan operasi militernya di Lebanon secara signifikan. Pemerintah Israel juga mendesak Hizbullah untuk segera melucuti persenjataan berat mereka, sebuah tuntutan yang hingga kini belum dipenuhi.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai berlaku sejak 17 April lalu. Namun, alih-alih membawa ketenangan, perjanjian tersebut justru diwarnai saling tuduh hampir setiap hari. Kedua pihak kerap melaporkan pelanggaran, mulai dari tembakan sporadis hingga pergerakan pasukan di zona terlarang.
Di lapangan, warga sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Rumah sakit dan klinik di Lebanon selatan, yang seharusnya menjadi tempat aman, justru ikut terseret dalam pusaran konflik. Kehilangan tiga petugas medis dalam satu serangan menjadi bukti betapa rentannya mereka yang berada di garis depan.
Sementara itu, mediasi Amerika Serikat terus berjalan, namun belum ada tanda-tanda bahwa gencatan senjata yang diperpanjang mampu menghentikan siklus kekerasan secara permanen.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemerintah Kembalikan Rp10,2 Triliun ke Kas Negara, Hasil Penertiban Kawasan Hutan Akan Digunakan untuk Renovasi Puskesmas
Sarihusada Raih Penghargaan Keselamatan Kerja Level Platinum di WISCA 2026
Prabowo Lontarkan Candaan soal Latar Belakang Buruh ke Menteri Jumhur saat Resmikan Museum Marsinah
Prabowo Perintahkan BPKP Periksa Pejabat di Lingkaran Dekatnya yang Terindikasi Korupsi