BMKG Peringatkan El Nino Super Mulai Juni 2026, Ancaman Kemarau Ekstrem di Jawa hingga Nusa Tenggara

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 13:25 WIB
BMKG Peringatkan El Nino Super Mulai Juni 2026, Ancaman Kemarau Ekstrem di Jawa hingga Nusa Tenggara
PARADAPOS.COM - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena El Nino Super yang diprediksi akan melanda Indonesia mulai Juni 2026. Fenomena ini, menurut BMKG, berpotensi memicu kemarau panjang yang lebih ekstrem dibandingkan rata-rata tiga dekade terakhir. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang, dengan dampak paling parah dirasakan di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra bagian selatan.

Ancaman Kemarau Panjang dan Lebih Kering

Dalam pernyataannya usai menghadiri Musyawarah Nasional IKASTARA di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, pada Sabtu, 23 Mei 2026, Faisal menjelaskan secara rinci skenario cuaca ke depan. Ia meminta publik untuk benar-benar mewaspadai periode Juni hingga September. “Perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus, September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia akan lebih panjang dan juga lebih kering dari yang terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir,” ujarnya. Menurut Faisal, El Nino akan mulai aktif pada Juni 2026. Intensitasnya diperkirakan berada pada level moderat hingga kuat. Artinya, pengurangan curah hujan akan terasa signifikan di sejumlah daerah. “Untuk tahun ini, El Nino akan mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, nanti dia dengan intensitas kira-kira moderate sampai kuat,” jelasnya.

Wilayah Terdampak dan Zona Aman

Tidak seluruh wilayah Indonesia akan merasakan dampak yang sama. BMKG telah memetakan zona risiko berdasarkan data historis dan proyeksi iklim terkini. Wilayah yang paling rentan meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra bagian selatan. Sebaliknya, kawasan Indonesia bagian utara seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Kalimantan Utara diperkirakan tidak mengalami dampak signifikan dari fenomena ini. Pemetaan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih terarah.

Strategi Antisipasi: Modifikasi Cuaca dan Bendungan

Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ancaman ini. Bersama BMKG, sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan untuk menjaga ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih. Salah satu strategi utama adalah memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk mengisi kembali tampungan air sebelum musim kemarau benar-benar tiba. “Kita punya 220-an bendungan di Indonesia, sehingga mulai sekarang ketika awan masih ada, kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan-tampungan air kita ini agar swasembada pangan dapat kita jamin di tahun ini,” tutur Faisal. Dengan memanfaatkan infrastruktur bendungan yang ada, pemerintah berharap pasokan air untuk irigasi dan kebutuhan domestik tetap terjaga meskipun curah hujan menurun drastis.

Kewaspadaan Terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan

Selain kekeringan, ancaman lain yang mengintai adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat bahwa wilayah rawan karhutla memiliki potensi tinggi untuk mengalami peningkatan titik api selama periode El Nino. Oleh karena itu, langkah preventif juga dikedepankan. Pemerintah akan melakukan modifikasi cuaca secara proaktif di area-area yang dianggap rawan sebelum titik api mulai bermunculan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi. Dengan kombinasi pengelolaan bendungan dan teknologi modifikasi cuaca, pemerintah optimistis dapat meminimalkan dampak buruk dari fenomena El Nino Super tahun ini.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar