PARADAPOS.COM - Indeks dolar AS diperdagangkan hampir tidak berubah pada 99,24 pada akhir pekan ini, Jumat, 23 Mei 2026, setelah melalui sepekan penuh gejolak. Para pelaku pasar mata uang kini tengah menimbang ekspektasi kenaikan suku bunga tinggi di tengah tanda-tanda kemajuan perundingan damai antara Washington dan Teheran. Sementara itu, sentimen konsumen AS justru merosot ke titik terendah sepanjang masa, yakni 44,8, akibat lonjakan harga bensin yang dipicu gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Dolar Relatif Stabil di Tengah Spekulasi Kenaikan Suku Bunga
Meskipun fluktuatif, nilai dolar masih bertahan jauh di atas level sebelum perang. Bahkan, awal pekan ini mata uang Paman Sam sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari enam minggu. Para analis melihatnya sebagai cerminan keyakinan bahwa dolar tetap menjadi tempat berlindung yang relatif aman bagi investor di tengah krisis.
Daya tarik dolar juga kian meningkat seiring pandangan sejumlah analis. Mereka menilai ekonomi AS, sebagai salah satu pengekspor energi utama, mungkin lebih terlindungi dari dampak lonjakan harga minyak akibat konflik.
Sepanjang pekan ini, pergerakan dolar mengikuti pola naik turun yang cukup tajam. Melemah tipis pada satu hari, lalu menguat sedikit di hari berikutnya. Pola ini terjadi di tengah aksi jual obligasi global yang dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dari berbagai bank sentral dunia. Langkah tersebut diambil untuk meredam guncangan inflasi akibat melonjaknya harga minyak. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi angin segar bagi penguatan dolar.
Risalah pertemuan Federal Reserve bulan April yang dirilis pekan ini mengungkapkan, mayoritas pembuat kebijakan kini mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Langkah ini dinilai tepat jika inflasi yang didorong oleh energi terus berlanjut.
Pada hari Jumat, Kevin Warsh resmi dilantik sebagai ketua baru Fed. Ia mengambil alih jabatan di saat Presiden Donald Trump mendorong pemotongan suku bunga. Namun, dengan inflasi yang masih jauh di atas target bank sentral, pelonggaran kebijakan tampaknya belum akan terjadi. Sebaliknya, para pedagang di pasar telah sepenuhnya memperhitungkan adanya kenaikan suku bunga seperempat poin pada akhir tahun ini.
Di sisi lain, tekanan terhadap dolar muncul karena sentimen risiko sebagian besar menutupi permintaan aset aman minggu ini. Situasi ini terbantu oleh adanya tanda-tanda kemajuan diplomasi antara Washington dan Teheran, yang ditandai dengan pertemuan lanjutan antara mediator Pakistan dan perwakilan Iran.
Sentimen Konsumen AS Anjlok ke Titik Terendah
Kalender ekonomi pada hari Jumat juga menyita perhatian, terutama rilis survei konsumen Universitas Michigan untuk bulan Mei. Indeks utama yang mengukur sentimen konsumen AS ambles menjadi 44,8, turun drastis dari 49,8 pada bulan April. Angka ini merupakan yang terendah sepanjang catatan sejarah.
"Sentimen konsumen turun untuk bulan ketiga berturut-turut karena gangguan pasokan di Selat Hormuz terus mendorong harga bensin. Sentimen saat ini hanya di bawah titik terendah historis sebelumnya yang terlihat pada Juni 2022. Biaya hidup terus menjadi perhatian utama, dengan 57 persen konsumen secara spontan menyebutkan bahwa harga tinggi mengikis keuangan pribadi mereka, naik dari 50 persen bulan lalu," jelas direktur survei konsumen UMich Joanne Hsu dalam sebuah pernyataan.
Ekspektasi inflasi konsumen untuk tahun depan ikut merangkak naik menjadi 4,8 persen pada Mei, dari 4,7 persen pada April. Angka ini melonjak signifikan jika dibandingkan dengan 3,4 persen yang terlihat pada Februari, sebelum konflik Timur Tengah pecah.
Tak hanya itu, ekspektasi inflasi jangka panjang juga meningkat menjadi 3,9 persen pada Mei, dari 3,5 persen pada April. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kisaran 2,8 persen hingga 3,2 persen yang tercatat sepanjang tahun 2024.
Poundsterling dan Yen Menguat, Euro Justru Melemah
Bergeser ke mata uang utama lainnya, poundsterling tercatat sedikit menguat 0,1 persen ke level USD1,3440. Data pemerintah sebelumnya menunjukkan penjualan ritel di Inggris Raya turun 1,3 persen secara bulanan (mtm) pada bulan April. Angka ini jauh lebih dalam dari konsensus pasar yang memperkirakan penurunan hanya sebesar 0,6 persen.
Konsumen di Inggris terpaksa mengurangi pembelian bahan bakar dan pengeluaran diskresioner di tengah melonjaknya tagihan energi serta ketidakpastian akibat perang Iran. Sepanjang pekan ini, poundsterling berada di jalur menuju kenaikan hampir satu persen. Ini menjadi pemulihan setelah mengalami kerugian besar pada minggu sebelumnya, yang dipicu oleh hasil buruk pemilihan dewan bagi Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer.
Sementara itu, euro justru terpantau melemah 0,1 persen ke posisi USD1,1607, dan diperkirakan akan mencatatkan sedikit penurunan mingguan.
Di kawasan Asia, yen Jepang berhasil menguat untuk minggu kedua berturut-turut. Mata uang Negeri Sakura ini kembali mendekati level kunci 160. Pasangan USD/JPY diperkirakan akan naik 0,2 persen setiap minggu. Para pelaku pasar mata uang meyakini bahwa otoritas Jepang telah melakukan intervensi pada akhir April lalu untuk menopang yen setelah nilainya menyentuh angka 160.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gedung Apartemen Runtuh di Fez, Maroko, 15 Tewas dan 5 Luka-luka
Persib Bandung Butuh Hasil Imbang Lawan Persijap untuk Raih Hattrick Juara BRI Super League
Hercules Dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas Dugaan Perampasan Kemerdekaan
Polisi Tangkap 16 Pelaku Begal di Jakarta Utara, Hoaks Korban Model Ikut Meresahkan