PARADAPOS.COM - Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve yang baru dalam sebuah upacara yang dipimpin langsung oleh Presiden AS Donald Trump di Washington. Warsh, yang merupakan mantan gubernur bank sentral, menggantikan Jerome Powell di tengah tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Pelantikan ini terjadi saat para pedagang di pasar keuangan meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga seperempat poin pada akhir tahun ini untuk meredam guncangan harga energi.
Mandat Independensi di Tengah Tekanan Politik
Warsh mengambil alih pucuk pimpinan The Fed di saat yang penuh tantangan. Trump, yang selama ini dikenal sebagai kritikus keras Powell—sering menyebutnya “terlambat” dan bahkan meminta penyelidikan atas renovasi gedung bank sentral—kini secara konsisten mendesak pemangkasan suku bunga. Langkah-langkah tersebut sebelumnya sempat memicu kekhawatiran luas mengenai independensi bank sentral.
Namun, dalam upacara pelantikan Jumat lalu, Trump menyampaikan pesan yang berbeda. “Jujur, saya benar-benar serius, ini tidak dikatakan dengan cara lain, saya ingin Kevin benar-benar mandiri. Saya ingin dia mandiri dan melakukan pekerjaan yang hebat. Jangan lihat saya, jangan lihat siapa pun, lakukan saja urusanmu sendiri dan lakukan pekerjaan yang hebat,” ujar Trump.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden AS itu juga memuji Federal Reserve sebagai “pilar sistem keuangan dunia” dan “bank sentral terpenting di dunia.”
Janji Reformasi dan Komitmen Stabilitas
Warsh sendiri telah dikonfirmasi oleh Komite Perbankan, Perumahan, dan Urusan Perkotaan Senat AS bulan lalu. Dalam sidang dengar pendapat tersebut, ia menegaskan akan menjunjung tinggi independensi bank sentral dan bersumpah tidak membuat janji apa pun kepada Trump untuk menurunkan suku bunga demi mendapatkan posisi ketua.
“Mandat kami di Fed adalah untuk mendorong stabilitas harga dan lapangan kerja maksimal. Ketika kita mengejar tujuan tersebut dengan bijaksana dan jelas, independensi dan tekad, inflasi dapat lebih rendah, pertumbuhan lebih kuat, pendapatan riil lebih tinggi, dan Amerika dapat lebih makmur,” kata Warsh pada hari Jumat.
Ia menambahkan, “Untuk memenuhi misi ini, saya akan memimpin Federal Reserve yang berorientasi pada reformasi, belajar dari keberhasilan dan kesalahan masa lalu, menghindari kerangka kerja dan model yang statis, dan menjunjung tinggi standar integritas dan kinerja yang jelas.”
Pernyataan tentang reformasi ini selaras dengan komentarnya di hadapan Senat, di mana ia menekankan bahwa The Fed membutuhkan “reformasi kebijakan mendasar” dan “perubahan rezim.”
Tekanan Inflasi dan Sinyal dari Pasar
Warsh mengambil alih jabatan pada saat yang rumit. Pasar tenaga kerja AS memang masih berada di pijakan yang solid, namun inflasi telah menjadi masalah yang signifikan. Kenaikan harga konsumen dan produsen baru-baru ini, terutama akibat melonjaknya harga minyak, membuat harga bensin di SPBU naik dan menekan rumah tangga Amerika.
Angka terbaru untuk indikator inflasi pilihan The Fed—indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti—menunjukkan peningkatan tahunan sebesar 3,2 persen pada bulan Maret. Angka ini jauh di atas target bank sentral sebesar dua persen.
Sementara itu, pertumbuhan indeks harga konsumen (CPI) tahunan AS pada bulan April mencapai level tertinggi sejak Mei 2023. Indeks harga produsen (PPI) tahunan juga mencatat peningkatan terbesar sejak Desember 2022.
Dalam skenario seperti itu, masa jabatan Warsh akan dipantau secara ketat. Pasar obligasi AS telah memberi sinyal kenaikan suku bunga, dengan para pedagang secara signifikan meningkatkan penjualan utang pemerintah sejak minggu lalu. Imbal hasil obligasi 10 tahun dan 30 tahun bahkan melonjak ke level yang belum pernah terlihat dalam lebih dari setahun dan sejak 2007.
Menariknya, Wall Street tidak menunjukkan banyak reaksi terhadap pelantikan Warsh pada hari Jumat. Para pelaku pasar lebih fokus pada kenaikan mingguan saham yang didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi dan harga minyak.
“Kevin Warsh sudah berkinerja lebih baik daripada dua pendahulunya. Saham jatuh banyak pada Hari Pertama untuk (Janet) Yellen dan (Jerome) Powell,” kata kepala ahli strategi pasar di Carson Group, Ryan Detrick, di media sosialnya.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dolar AS Stabil di Tengah Spekulasi Suku Bunga, Sentimen Konsumen Anjlok ke Rekor Terendah
Polisi Tangkap 16 Pelaku Begal di Jakarta Utara, Hoaks Korban Model Ikut Meresahkan
Sega Rilis Paket Karakter Baru Total War: Warhammer III, Tawarkan Free Weekend dan Diskon 85 Persen
PLN Pastikan Seluruh Gardu Induk di Sumbar Kembali Menyala, Pemulihan Listrik Capai 60 Persen