Netanyahu Kecewa Keras Usai Trump Tunda Serangan ke Iran atas Desakan Negara Teluk

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 03:00 WIB
Netanyahu Kecewa Keras Usai Trump Tunda Serangan ke Iran atas Desakan Negara Teluk
PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan meluapkan kekecewaannya langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kekecewaan itu muncul setelah Trump memutuskan untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran. Keputusan penundaan tersebut diambil Trump atas permintaan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Percakapan telepon antara kedua pemimpin itu berlangsung tegang dan berdurasi sekitar satu jam, dengan Netanyahu yang tetap bersikukuh bahwa AS seharusnya melanjutkan operasi sesuai rencana awal.

Kronologi Penundaan Serangan

Rencana awal menyebutkan bahwa AS akan melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa, 19 Mei 2026. Trump telah memberitahu Netanyahu mengenai rencana tersebut pada Minggu, 17 Mei 2026. Namun, sehari kemudian, Trump mengubah keputusannya. Ia memilih untuk menunda operasi setelah mendengar masukan dari sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk.

Reaksi Netanyahu yang Keras

Sumber-sumber dari kalangan pejabat AS dan Israel yang mengetahui situasi ini mengatakan kepada CNN, Netanyahu tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dalam percakapan telepon yang berlangsung hampir satu jam, ia menilai langkah Trump sebagai sebuah kekeliruan. Menurut Netanyahu, penundaan serangan hanya akan memberikan keuntungan strategis bagi Iran. Suasana pembicaraan dilaporkan berlangsung tegang, namun Netanyahu tetap pada pendiriannya bahwa AS harus melaksanakan serangan.

Alasan di Balik Penundaan: Musim Haji

Sementara itu, dua sumber dari pejabat negara Teluk memberikan perspektif berbeda kepada Middle East Eye. Mereka mengungkapkan bahwa penundaan serangan oleh Trump sebenarnya didorong oleh pertimbangan musim haji di Arab Saudi. Para ajudan Trump telah memperingatkannya bahwa melancarkan serangan ke Iran selama musim haji akan memicu krisis kemanusiaan dan logistik yang parah di negara-negara kawasan. "Menyerang Iran selama musim haji hanya akan memicu krisis di negara-negara kawasan. Ini akan menyebabkan ratusan ribu, bahkan jutaan, jemaah haji telantar," demikian peringatan yang diterima Trump dari para ajudannya. Seorang pejabat senior AS, yang mengetahui isi diskusi internal tersebut, mengonfirmasi adanya peringatan serius dari staf kepresidenan. Mereka menekankan bahwa melanjutkan perang terhadap Iran pada saat seperti ini bisa menghancurkan reputasi pemerintahan Trump di dunia Muslim. Tindakan semacam itu dinilai akan semakin merusak citra Washington di mata internasional.

Tantangan Logistik yang Besar

Meskipun AS dan Israel sebelumnya pernah menyerang Iran saat bulan Ramadhan, para pejabat meyakini bahwa serangan pada musim haji akan membawa tantangan yang jauh lebih besar. Arab Saudi, yang setiap tahunnya menerima sekitar satu juta jemaah dari luar negeri, akan menghadapi kesulitan logistik yang luar biasa. Permasalahan diperkirakan tidak hanya berhenti di Arab Saudi, tetapi juga akan meluas ke bandara-bandara di Qatar, Uni Emirat Arab, serta negara-negara di Asia Selatan dan Timur. Prosesi haji tahun ini dijadwalkan akan dimulai pada 24 Mei dan berlangsung selama enam hari ke depan.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar