PARADAPOS.COM - Laporan investigasi New York Times mengungkap bahwa pasca meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat-Israel pada Februari lalu, kepemimpinan negara tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan putranya, Mojtaba Khamenei. Meski resmi ditunjuk sebagai penerus, pengaruh Mojtaba dinilai tidak sekuat ayahnya. Alhasil, arah pengambilan keputusan strategis di Iran kini lebih banyak dikendalikan oleh sekelompok elit yang terdiri dari pejabat senior dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Laporan yang dikutip dari NDTV pada Minggu, 24 Mei 2026, ini memetakan enam sosok paling berpengaruh di balik layar pemerintahan Iran saat ini.
Kekuasaan di Balik Tahta: “Persaudaraan Keras” Mengendalikan Iran
Meskipun secara resmi para pejabat senior Iran menyatakan bahwa semua urusan penting berada di tangan pewaris berusia 56 tahun itu, kenyataan di lapangan berkata lain. “Pejabat senior Iran tetap menyatakan bahwa semua urusan penting berada di tangan pewaris berusia 56 tahun itu. Namun, pengambilan keputusan sebenarnya tidak hanya bergantung pada satu orang,” tulis laporan tersebut.
Kelompok yang disebut sebagai ‘persaudaraan keras’ ini, menurut New York Times, terbentuk dari pengalaman pahit selama perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun sejak 1980. Mereka adalah para veteran yang kini memegang kendali atas berbagai sektor vital negara.
Mohammad-Bagher Ghalibaf: Jembatan Antara Politik dan Militer
Di usianya yang ke-64, Ghalibaf menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran. Namun, pengalamannya jauh melampaui dunia legislatif. Ia pernah menjadi komandan angkatan udara Garda Revolusi Iran (IRGC), kepala kepolisian nasional, hingga wali kota Teheran. Saat ini, ia juga memimpin tim negosiator Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Sosoknya kontroversial. Ia secara terbuka pernah mengaku ikut memukul demonstran dengan tongkat saat aksi protes anti-pemerintah pada 1999. Kala itu, ia turun ke jalan dengan mengendarai sepeda motor, menyamar layaknya anggota milisi biasa.
Kini, Ghalibaf dipandang sebagai penghubung utama antara elite politik dan militer. Beberapa pengamat menilai ia tengah berupaya mendorong kesepakatan damai dengan Barat, sebuah langkah yang bisa memperkuat posisinya sebagai tokoh kuat baru di Iran.
Mohammad Bagher Zolghadr: Wajah Meleburnya Militer ke Politik
Zolghadr, yang kini berusia 72 tahun, adalah contoh nyata bagaimana kalangan militer telah menyatu dengan elite politik Iran. Tokoh garis keras ini pernah menjabat sebagai wakil komandan Garda Revolusi dan wakil menteri dalam negeri. Pengaruhnya yang besar menjadikannya salah satu aktor kunci dalam setiap keputusan strategis negara.
Kehadiran figur-figur seperti Zolghadr dan Ghalibaf menunjukkan bahwa struktur kekuasaan di Iran pasca-Khamenei bukanlah monarki tunggal, melainkan sebuah oligarki militer-politik yang kompleks. Keputusan-keputusan besar, mulai dari negosiasi nuklir hingga kebijakan dalam negeri, tampaknya akan terus melalui saringan ketat kelompok elit ini.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pria Bersenjata Tewas Ditembak Usai Lepaskan Tembakan ke Arah Petugas Secret Service di Depan Gedung Putih
Eliano Reijnders Berurai Bahagia Usai Persib Bandung Kunci Hattrick Juara BRI Super League
Bayern Muenchen Pastikan Gelar Ganda Usai Hattrick Harry Kane Bungkam Stuttgart di Final DFB-Pokal
Real Madrid Tutup Musim dengan Kemenangan 4-2 atas Athletic Club, Carvajal dan Alaba Pamit