PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.010 per dolar AS pada pukul 12.20 WIB, turun dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.980 per USD. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi pasar terhadap data ekonomi domestik.
Tertekan Sentimen Eskalasi Geopolitik
Tekanan terhadap rupiah datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan situasi ini menjadi faktor utama yang membebani mata uang Garuda.
"Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," ucap Lukman.
Menurut laporan yang beredar, Amerika Serikat melalui Komando Pusatnya (CENTCOM) melancarkan serangan baru ke Iran. Operasi tersebut disebut sebagai respons langsung atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
Di sisi lain, laporan media nasional Iran, IRIB, pada Selasa, 7 Juli 2026, menyebutkan sebuah kapal Qatar bernama Al-Rekayyat tengah berusaha melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman. Kapal tersebut dikawal oleh Angkatan Laut AS, namun akhirnya menjadi sasaran serangan setelah beberapa peringatan dikeluarkan.
Cadangan Devisa Indonesia Naik USD700 Juta
Di tengah tekanan eksternal, ada kabar positif dari dalam negeri. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai USD145,6 miliar. Angka ini naik tipis sebesar USD700 juta dari posisi akhir Mei 2026 yang tercatat USD144,9 miliar.
Kenaikan cadev tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Namun, perkembangan ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.
"Namun, investor masih mengantisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan naik ke 125," ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pergerakan rupiah diprediksi akan berkisar antara Rp17.950 per USD hingga Rp18.050 per USD dalam waktu dekat.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
PM Modi Targetkan Restorasi Candi Prambanan Rampung Sebelum 2029, Akan Diresmikan Bersama Presiden Prabowo
Polisi Amankan Permukiman Sepi di Sekitar TPA Jatiwaringin, 192 Warga Mengungsi Akibat Kebakaran
Trump Berjanji Cabut Sanksi CAATSA ke Turki dan Buka Peluang Penjualan F-35 di Sela KTT NATO Ankara
Jakarta Fair 2026 Resmi Dibuka Mulai 11 Juni, Berlangsung 32 Hari Hingga 12 Juli