PBNU: Iduladha 1447 H Jadi Pengingat Nilai Kesabaran dan Pengorbanan di Tengah Ketegangan Global

- Minggu, 24 Mei 2026 | 04:25 WIB
PBNU: Iduladha 1447 H Jadi Pengingat Nilai Kesabaran dan Pengorbanan di Tengah Ketegangan Global
PARADAPOS.COM - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Macshoem Faqih, menyampaikan pandangannya mengenai perayaan Iduladha 1447 Hijriah di tengah situasi global yang kian memanas. Menurutnya, perayaan tahun ini hadir di saat dunia tengah dilanda ketegangan akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang tidak hanya menciptakan ketidakpastian politik tetapi juga memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan mengikis rasa aman sosial di kalangan masyarakat luas.

Iduladha di Tengah Ketegangan Global

Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu, 24 Mei 2026, pria yang akrab disapa Gus Macshoem itu mengungkapkan ironi yang terasa di lapangan. “Di saat gema takbir berkumandang, dunia justru sedang dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda,” ujarnya. Gus Macshoem, yang juga menjabat sebagai Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, menekankan bahwa Iduladha bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan di era yang semakin individualistis.

Kisah Nabi Ibrahim: Pesan Universal untuk Zaman Modern

Menurut Gus Macshoem, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pesan universal yang relevan hingga kini. Ia menjelaskan bahwa kisah tersebut mengajarkan bagaimana manusia tetap bisa menjaga kemanusiaannya ketika menghadapi ujian hidup yang berat. “Kesabaran yang diajarkan Idul Adha bukan menyerah tanpa usaha, tetapi kemampuan menjaga arah hidup ketika keadaan terasa berat,” ungkapnya. Ia menilai tekanan hidup modern kerap membuat banyak orang mudah marah, putus asa, dan kehilangan ketenangan. Media sosial, lanjutnya, memperlihatkan bagaimana manusia semakin mudah terjebak dalam pertengkaran dan kemarahan. “Padahal kesabaran adalah kekuatan. Ia menjaga manusia tetap berpikir jernih ketika emosi sedang penuh,” ujarnya.

Ketaatan di Tengah Budaya Instan

Gus Macshoem juga menyoroti pentingnya ketaatan di tengah budaya serba instan yang mendorong manusia mengejar keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai kejujuran dan amanah. Ia mengamati bahwa perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh, dan yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil. “Kita melihat bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh. Yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil,” katanya. Menurutnya, ujian ketaatan saat ini hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari godaan berbuat curang, mengabaikan tanggung jawab, hingga memilih keuntungan sesaat meskipun merugikan orang lain. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa iman tidak cukup berhenti pada simbol dan ucapan, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Pengorbanan dan Kepedulian Sosial

Dalam kesempatan itu, Gus Macshoem juga menyoroti pentingnya nilai pengorbanan yang terkandung dalam ibadah kurban. Ia menyebut dunia modern cenderung membentuk manusia untuk terus mengambil, bukan memberi. “Padahal inti Idul Adha adalah kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar,” ucapnya. Ia menambahkan, pengorbanan tidak selalu berbentuk hal besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu sesama, hingga menjaga perasaan orang lain di tengah kehidupan yang semakin keras. Menurut Gus Macshoem, pembagian daging kurban menjadi simbol penting bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dirasakan bersama, terutama oleh masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. “Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar dan kuat. Tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri,” tuturnya.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar