Perayaan Waisak di Borobudur Dorong Lonjakan Okupansi Hotel dan Omzet Pelaku Usaha Lokal

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 21:00 WIB
Perayaan Waisak di Borobudur Dorong Lonjakan Okupansi Hotel dan Omzet Pelaku Usaha Lokal
PARADAPOS.COM - Perayaan Waisak di kawasan Candi Mendut dan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tahun ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi umat Buddha, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengungkapkan bahwa lonjakan jumlah pengunjung selama perayaan tersebut memberikan dampak langsung pada sektor perhotelan, homestay, rumah makan, hingga pelaku usaha kuliner di wilayah Magelang. Fenomena ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bagaimana sebuah kegiatan keagamaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Dampak Langsung pada Sektor Perhotelan dan Kuliner

Di sela-sela kesibukannya memantau jalannya perayaan, Irene Umar menjelaskan bahwa para pengunjung Waisak tidak hanya datang untuk beribadah. Mereka juga aktif melakukan berbagai aktivitas ekonomi, seperti berbelanja oleh-oleh dan menikmati sajian kuliner khas di sekitar kawasan Borobudur. Ia mencontohkan, pada perayaan tahun sebelumnya, tingkat okupansi hotel melonjak sangat tajam. Bahkan, ia sendiri mengaku sempat kesulitan mendapatkan penginapan dan harus memesan kamar jauh-jauh hari. “Saya sendiri mengalami kesulitan mendapatkan hotel karena semua penuh. Ini adalah happy problem, sebuah tantangan positif yang menunjukkan betapa tingginya minat wisatawan untuk hadir,” ujarnya sambil tersenyum.

Efek Berantai dan Potensi Pengembangan Wisata

Kondisi serupa juga terlihat di sektor homestay. Rumah-rumah penduduk di sekitar kawasan Borobudur turut terisi penuh seiring dengan membeludaknya jumlah wisatawan. Menurut Irene, efek ekonomi ini tidak hanya terjadi di Magelang. Pola serupa juga terlihat pada berbagai festival dan kegiatan di Yogyakarta, Solo, dan Semarang, yang turut menggerakkan sektor pariwisata di wilayah tersebut. Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong. Menurutnya, kolaborasi antara penyelenggara, masyarakat, dan pemerintah adalah kunci agar kegiatan keagamaan dan budaya tidak hanya berjalan khidmat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. “Ini menunjukkan potensi besar pengembangan ekonomi kreatif berbasis event keagamaan dan budaya di Indonesia,” tutupnya, menekankan bahwa sinergi semacam ini perlu terus dipupuk untuk masa depan pariwisata nasional.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar