Studi Ungkap Kebiasaan Gen Z Membandingkan Diri di Media Sosial Menggerus Harga Diri dan Kesehatan Mental

- Rabu, 10 Juni 2026 | 17:50 WIB
Studi Ungkap Kebiasaan Gen Z Membandingkan Diri di Media Sosial Menggerus Harga Diri dan Kesehatan Mental
PARADAPOS.COM - Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial telah menyatu dengan rutinitas harian jutaan orang, terutama Generasi Z. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, muncul fenomena psikologis yang mengintai: kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, atau yang dikenal sebagai social comparison. Fenomena ini, yang diperkuat oleh konten media sosial yang sarat kurasi, berpotensi menggerus harga diri (self-esteem) dan kesehatan mental, menjadikannya isu krusial yang perlu dipahami secara mendalam.

Social Comparison: Antara Motivasi dan Jerat Psikologis

Konsep perbandingan sosial bukanlah hal baru. Pada tahun 1954, Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk mengevaluasi diri dengan membandingkan kemampuan dan pendapatnya terhadap orang lain. Ini adalah cara kita memahami posisi kita dalam lingkungan sosial. Dalam praktiknya, perbandingan ini terbagi menjadi dua bentuk utama. Pertama, upward social comparison, yaitu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan individu yang dianggap lebih sukses atau lebih baik. Kedua, downward social comparison, yaitu perbandingan dengan mereka yang dianggap berada dalam kondisi lebih buruk. Pada kadar tertentu, melihat kesuksesan orang lain bisa memicu motivasi. Melihat teman menyelesaikan studi atau meraih impiannya bisa menjadi dorongan untuk berusaha lebih keras. Namun, masalah muncul ketika perbandingan ini dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus. Media sosial memperparah kondisi ini. Pengguna hanya terpapar pada versi kehidupan orang lain yang telah dikurasi secara selektif—hanya momen terbaik yang ditampilkan, sementara kegagalan dan kesulitan jarang terlihat. Akibatnya, banyak orang membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh pasang surut dengan versi kehidupan orang lain yang telah "diperindah".

Self-Esteem di Era Digital: Tarik Ulur antara Realitas dan Standar Maya

Dalam psikologi, self-esteem adalah evaluasi subjektif seseorang terhadap nilai dan keberhargaan dirinya. Morris Rosenberg mendefinisikannya sebagai sikap positif atau negatif terhadap diri sendiri secara keseluruhan. Individu dengan self-esteem yang sehat mampu menerima kelebihan dan kekurangan secara realistis. Mereka tetap bisa menghargai diri sendiri meskipun mengalami kegagalan. Sebaliknya, mereka yang memiliki self-esteem rendah cenderung mudah ragu, merasa tidak berharga, dan sangat bergantung pada penilaian orang lain. Bagi Generasi Z, pembentukan self-esteem menjadi semakin rumit. Mereka tumbuh di lingkungan digital yang kompetitif. Selain tuntutan akademik dan sosial, mereka juga berhadapan dengan standar kehidupan yang terus ditampilkan di media sosial. Jumlah pengikut, likes, komentar, hingga gaya hidup kerap dijadikan indikator keberhasilan. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang sering melakukan upward social comparison di media sosial cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Semakin sering seseorang merasa dirinya "di bawah" orang lain, semakin besar kemungkinan munculnya perasaan tidak puas terhadap diri sendiri.

Generasi Z dan Budaya Perbandingan yang Tak Kunjung Usai

Generasi Z lahir dan besar di era internet. Berbeda dengan generasi sebelumnya, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas. Sayangnya, platform digital sering menciptakan lingkungan yang mendorong perbandingan tanpa henti. Melihat teman sebaya lulus lebih cepat, mendapatkan pekerjaan bergengsi, atau menjalani gaya hidup menarik kerap memicu pertanyaan dalam diri: "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?" atau "Apa yang kurang dari diriku?" Budaya produktivitas yang marak di media sosial semakin memperkuat fenomena ini. Konten tentang rutinitas super produktif, kesuksesan finansial di usia muda, dan transformasi diri memberikan kesan bahwa setiap orang harus terus berkembang tanpa henti. Akibatnya, banyak yang merasa bersalah ketika tidak mampu mencapai standar yang sama. Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang unik. Membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir yang ditampilkan orang lain sering kali menghasilkan penilaian yang tidak adil.

Dampak pada Kesehatan Mental: Lebih dari Sekadar Rasa Kurang Percaya Diri

Kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan tidak hanya memengaruhi self-esteem, tetapi juga kesehatan mental secara keseluruhan. Berbagai studi mengaitkan social comparison dengan peningkatan kecemasan, depresi, stres psikologis, hingga perasaan kesepian. Ketika seseorang terus-menerus merasa kurang baik dibandingkan orang lain, muncul kecenderungan untuk meragukan kemampuan diri dan kehilangan rasa syukur. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kesejahteraan psikologis. Fenomena ini juga erat kaitannya dengan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman orang lain. Individu dengan FoMO cenderung terus-menerus memeriksa media sosial, yang pada akhirnya memperkuat siklus perbandingan sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Vogel et al. pada tahun 2014 menemukan bahwa penggunaan media sosial yang intens berhubungan dengan meningkatnya perbandingan sosial dan menurunnya self-esteem. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin sering individu membandingkan diri, semakin besar kemungkinan mereka mengalami penurunan kepuasan terhadap diri sendiri.

Membangun Self-Esteem yang Sehat di Tengah Derasnya Informasi Digital

Meskipun media sosial bisa menjadi pemicu, bukan berarti kita harus menghindarinya sepenuhnya. Kuncinya adalah mengembangkan kemampuan untuk menggunakan platform digital secara lebih sehat dan kritis. Langkah pertama adalah menyadari bahwa apa yang terlihat di media sosial bukanlah gambaran utuh kehidupan seseorang. Konten yang dibagikan hanyalah hasil seleksi dari berbagai pengalaman. Membandingkan kehidupan nyata dengan "cuplikan terbaik" orang lain sering kali menghasilkan kesimpulan yang keliru. Selanjutnya, penting untuk mengembangkan penghargaan terhadap pencapaian diri sendiri. Fokus pada proses perkembangan pribadi, bukan pada perbandingan dengan orang lain, dapat membantu meningkatkan self-esteem. Setiap individu memiliki kecepatan dan jalur kehidupannya masing-masing. Praktik mindfulness juga bisa membantu. Dengan melatih kesadaran terhadap pengalaman saat ini, seseorang dapat lebih fokus pada kehidupannya sendiri, bukan terus-menerus memperhatikan kehidupan orang lain. Terakhir, dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan yang positif sangat berperan. Ketika seseorang merasa diterima dan dihargai apa adanya, kebutuhan untuk mencari validasi melalui perbandingan sosial cenderung berkurang.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar