PARADAPOS.COM - Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa respons terhadap serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, akan segera dilancarkan. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, pada Senin, 15 Juni 2026, sebagai reaksi atas serangan yang menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya di selatan Beirut sehari sebelumnya. Zolghadr menegaskan bahwa Teheran tidak akan mentoleransi pelanggaran terhadap apa yang disebutnya sebagai "garis merah" Republik Islam, seraya menyebut Lebanon sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Ancaman Respons dan Persatuan Kawasan
Dalam pernyataan yang dikutip oleh media setempat, Zolghadr menekankan bahwa persatuan berbagai pihak di kawasan telah membentuk rantai keamanan untuk mempertahankan stabilitas regional. Ia menambahkan bahwa pelanggaran terhadap garis merah Republik Islam tidak akan ditoleransi. "Respons akan datang," katanya dengan nada tegas.
Pernyataan tersebut muncul setelah jet tempur Israel melancarkan serangan ke wilayah selatan Beirut pada Minggu dini hari, 14 Juni 2026. Serangan ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang masih berlaku, memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rapuh.
Klarifikasi Soal Penutupan Penerbangan
Di tengah meningkatnya ketegangan, beredar laporan dari kantor berita semi-resmi Tasnim yang menyebutkan bahwa seluruh penerbangan menuju dan dari bandara di wilayah barat Iran dihentikan hingga waktu yang belum ditentukan. Namun, kabar ini segera dibantah oleh juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran, Majid Akhavan.
Akhavan menyebut informasi mengenai pembatalan penerbangan di Iran barat tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa tidak ada Notice to Airmen (NOTAM) baru yang diterbitkan untuk menutup wilayah udara atau menghentikan lalu lintas penerbangan di kawasan tersebut. "Informasi itu tidak benar," ujarnya singkat.
Kritik dari Washington dan Prospek Damai
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik serangan Israel ke Beirut. Menurutnya, serangan itu seharusnya tidak terjadi, terutama ketika Washington dan Teheran disebut semakin dekat mencapai kesepakatan damai. Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut awalnya dijadwalkan ditandatangani pada hari Minggu, namun kemudian diundur dan akan dilakukan di Jenewa pada 19 Juni mendatang.
Iran sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa penghentian konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon, harus menjadi bagian dari setiap kesepahaman dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Saat ini, konflik tersebut berada dalam masa gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan sejak April, meskipun berbagai insiden bersenjata masih terus terjadi di lapangan.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wamentrans Akui Program Transmigrasi Belum Tuntas, Revitalisasi Jadi Andalan Pemerintahan Prabowo
Ben Affleck Sumbangkan Kemenangan Rp18 Miliar dari Who Wants to Be a Millionaire untuk Amal
BMKG Peringatkan El Nino Bertahan hingga 2027, Puncak Kemarau Agustus-September 2026
Menteri Lingkungan Hidup Paparkan Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo di Forum Akademik UNAS