BMKG: Hujan Diprediksi Meningkat di Sumsel di Tengah Awal Musim Kemarau

- Senin, 15 Juni 2026 | 11:25 WIB
BMKG: Hujan Diprediksi Meningkat di Sumsel di Tengah Awal Musim Kemarau
PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) akan meningkat dalam dua hari ke depan, terhitung sejak Senin, 15 Juni 2026. Fenomena ini terjadi di tengah awal musim kemarau yang sebenarnya sudah mulai berlangsung di provinsi tersebut. Peningkatan curah hujan dipicu oleh melemahnya monsun Australia serta terbentuknya pola sirkulasi angin di perairan barat Bengkulu. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, meskipun hujan yang turun dipastikan tidak berlangsung sepanjang hari dan bersifat lokal.

Pemicu Hujan di Awal Musim Kemarau

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sinta Andayani, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini sangat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumsel. Meskipun provinsi ini sudah memasuki awal musim kemarau, kondisi cuaca justru menunjukkan peningkatan basah yang tidak biasa. “Dalam beberapa hari terakhir ini memang terjadi peningkatan potensi hujan. Hal ini dipicu oleh monsun Australia yang melemah serta pola angin yang membentuk sirkulasi di perairan barat Bengkulu,” ungkapnya di Palembang. Menurutnya, melemahnya monsun Australia menyebabkan aliran udara kering dari benua tersebut berkurang, sehingga uap air dari Samudra Hindia lebih mudah masuk ke wilayah Sumsel. Ditambah dengan pola sirkulasi angin yang terbentuk di perairan barat Bengkulu, kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi pembentukan awan hujan.

Karakteristik Hujan yang Perlu Dipahami

Sinta menegaskan bahwa hujan yang diprakirakan mengguyur sejumlah wilayah Sumsel dalam 48 jam ke depan memiliki karakteristik yang berbeda dengan musim penghujan pada umumnya. Masyarakat tidak perlu panik, karena sifat hujan ini cenderung lebih bersahabat. “Hujan yang terjadi ini dengan intensitas ringan hingga sedang, berdurasi singkat, dan bersifat lokal,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa hujan tidak akan turun sepanjang hari. Sebaliknya, cuaca bisa terasa panas di pagi hari, lalu tiba-tiba mendung dan hujan turun pada siang hingga sore hari. Pola seperti ini, kata dia, adalah ciri khas transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

Imbauan untuk Aktivitas Luar Ruangan

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang tiba-tiba. Terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hingga sore hari, mengingat sifat hujan yang terjadi secara lokal dan mendadak. Meskipun intensitasnya ringan hingga sedang, perubahan cuaca yang cepat bisa mengganggu aktivitas jika tidak diantisipasi. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik, karena karakteristik hujan yang turun di awal musim kemarau ini berbeda dengan musim penghujan,” ujarnya. Sinta juga menekankan pentingnya memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, terutama bagi nelayan dan petani yang aktivitasnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Dengan memahami pola cuaca yang dinamis ini, diharapkan masyarakat dapat beradaptasi dan tetap produktif meskipun cuaca sedang tidak menentu.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar