Wamen dan Menteri Dikepung Mahasiswa Usai Acara di UGM, Budiman: Bukan Dialog tapi Penghakiman

- Rabu, 17 Juni 2026 | 01:50 WIB
Wamen dan Menteri Dikepung Mahasiswa Usai Acara di UGM, Budiman: Bukan Dialog tapi Penghakiman

PARADAPOS.COM - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, mengungkapkan bahwa Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sempat berupaya mengajak mahasiswa berdiskusi setelah acara di Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir ricuh. Peristiwa ini terjadi pada Senin (16/6/2026) usai agenda bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar". Namun, alih-alih dialog yang terjadi, kedua pejabat tersebut justru menghadapi situasi yang oleh Budiman disebut sebagai "penghakiman" dari para mahasiswa.

Kronologi Momen di UGM

Budiman menuturkan, momen itu bermula ketika dirinya bersama Sudaryono dan Nusron meninggalkan lokasi diskusi di kampus UGM. Suasana saat itu sudah tidak kondusif. Dalam perjalanan keluar, Budiman mengaku terpisah dari kedua rekannya. Ia sendiri melewati pintu kiri dan langsung masuk ke dalam mobil.

"Saya lewat pintu kiri langsung dimasukkan mobil, kemudian saya baru tahu bahwa ternyata dua kawan saya itu, dua menteri dan wakil menteri itu, rupanya ketika keluar, masuk mobil, dikepung mobilnya," kata Budiman dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Upaya Dialog yang Berujung Penghakiman

Melihat mobilnya dikepung, Sudaryono dan Nusron memutuskan untuk turun. Mereka bernhati untuk mengajak para mahasiswa yang mengepung berdialog. Namun, harapan untuk berdiskusi secara sehat sirna. Budiman menyebut keduanya justru dikerumuni massa dalam tekanan.

"Tapi tidak terjadi diskusi, adanya penghakiman dan mereka diminta mengaku merasa bersalah. Tidak terjadi diskusi karena situasi juga tidak makin kondusif tapi malah makin tegang sehingga Pak Nusron dan Pak Daryono memutuskan tidak bisa diteruskan. Tidak lagi kondusif. Memang bukan diskusi yang terjadi," ujarnya.

Menurut Budiman, pemerintah sejatinya telah membuka ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi dan berdebat. Ia bahkan menegaskan bahwa pemerintah ingin mendengarkan kritik. Namun, apa yang terjadi di UGM dinilainya di luar ekspektasi.

"Kami mau mendengarkan, bukan situasi chaotic dan bukan penggagalan. Jadi bagi kami ini tidak sesuai dengan apa yang menjadi target kami diundang untuk berdialog," tuturnya.

Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri tentang dinamika pertemuan antara pejabat publik dan mahasiswa di tengah meningkatnya tensi politik. Alih-alih menjadi ajang tukar pikiran, acara yang diinisiasi untuk berdialog justru berakhir dengan kebuntuan komunikasi.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags