PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran telah menunjukkan kemajuan signifikan. Dalam wawancara dengan Al Arabiya di Kairo pada Minggu, 21 Juni 2026, Dar mengungkapkan keyakinannya bahwa kedua negara pada akhirnya dapat mencapai kesepakatan final. Ia menyebut berbagai isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Teheran telah menunjukkan perkembangan positif, meskipun fase berikutnya dari negosiasi diprediksi akan lebih sulit.
“Persoalan antara Amerika Serikat dan Iran telah mengalami kemajuan yang besar,” ujar Dar, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Kesepahaman Awal dan Diplomasi sebagai Jalan Terbaik
Salah satu poin penting yang telah disepakati, menurut Dar, adalah pengurangan tingkat pengayaan stok uranium Iran. Ia menambahkan bahwa kedua pihak sama-sama menyimpulkan diplomasi merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan yang ada. Di tengah optimisme itu, Dar mengakui bahwa tahap negosiasi selanjutnya kemungkinan akan menghadirkan tantangan yang lebih besar dibandingkan fase sebelumnya.
Selain soal nuklir, Dar juga mengungkapkan bahwa selama masa negosiasi 60 hari yang sedang berlangsung, tidak akan ada pengenaan biaya transit maupun biaya layanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini, jelasnya, bertujuan menjaga kelancaran aktivitas pelayaran internasional di jalur perdagangan energi yang strategis tersebut.
Tiga Tim Teknis di Swiss
Dar menyebutkan bahwa saat ini terdapat tiga tim teknis yang tengah bekerja di Swiss. Masing-masing tim fokus pada pembahasan program nuklir Iran, aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta perkembangan situasi di Lebanon. Pernyataan ini disampaikan di tengah berlangsungnya pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran di Swiss, yang merupakan kelanjutan dari pembicaraan pasca-penandatanganan memorandum kesepahaman pekan lalu.
Pembicaraan di Burgenstock, Swiss, merupakan bagian dari implementasi Memorandum Islamabad. Dokumen tersebut bertujuan mengakhiri konflik antara kedua negara dan membuka kembali jalur pelayaran normal di Selat Hormuz. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran mengirimkan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pakistan memainkan peran sebagai mediator utama dalam proses diplomatik yang mempertemukan kedua negara tersebut. Dar menegaskan bahwa Islamabad akan terus mendukung dialog dan implementasi kesepahaman yang telah dicapai demi mendorong stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Meski sejumlah kemajuan telah diumumkan, para diplomat masih menghadapi tantangan besar. Isu-isu sensitif seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta berbagai persoalan keamanan regional masih menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Teheran.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Eceng Gondok Disulap Jadi Pengharum Ruangan hingga Biogas, Pertamina Patra Niaga Raup Omzet Rp50 Juta
Tokoh Nasional dan Pimpinan Media Ikuti Latihan Bersama di CFD Jakarta Sambut UI Green Marathon 2026
Perdana Menteri Pakistan dan Wakil Presiden AS Bertemu di Swiss Bahas Perundingan Nuklir Iran
Kadishub DKI Bantah Tuduhan Pungli Rp250 Ribu ke Ojol, Motor Sudah Dikembalikan Gratis