Wall Street Terkoreksi Tipis di Tengah Tekanan Sektor Teknologi Jelang Laporan Micron

- Kamis, 25 Juni 2026 | 02:00 WIB
Wall Street Terkoreksi Tipis di Tengah Tekanan Sektor Teknologi Jelang Laporan Micron
PARADAPOS.COM - Wall Street gagal mempertahankan momentum pemulihan pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, setelah aksi jual besar-besaran di sektor saham memori dan cip pada sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,1 persen ke level 7.359,11 poin, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi ambles 0,4 persen ke 25.476,64 poin. Dow Jones Industrial Average justru menjadi pengecualian dengan menguat 0,4 persen ke 51.850,87 poin. Para pelaku pasar masih mencerna dampak dari gejolak sektor teknologi global yang dipicu oleh kejatuhan saham di Korea Selatan, sembari menanti laporan keuangan raksasa cip memori, Micron Technology.

Teknologi Tertekan Menanti Laporan Micron

Pada Selasa pekan ini, pasar saham Korea Selatan mengalami penurunan bersejarah. Pelemahan di sektor teknologi menyebar cepat ke bursa global, menghantam produsen cip AS dan saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Nasdaq kala itu anjlok lebih dari dua persen, dan S&P 500 ikut terpuruk dengan koreksi serupa. Sebelumnya, reli saham AI menjadi motor utama pemulihan Wall Street pada April dan Mei. Momentum itu cukup kuat untuk membuat investor mengabaikan kekhawatiran akan konflik Timur Tengah serta guncangan inflasi akibat lonjakan harga minyak. Namun, situasi kini berubah. Kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran telah diteken. Patokan minyak mentah dunia pun kembali ke level sebelum perang. Premi risiko geopolitik yang sempat membubung kini praktis hilang. Akibatnya, fokus pasar sepenuhnya beralih ke fundamental sektor teknologi.

Kospi Bangkit, Saham Raksasa Korea Pulih

Di tengah tekanan global, bursa Korea Selatan justru menunjukkan pemulihan. Indeks Kospi ditutup melonjak lebih dari tiga persen pada Rabu. Dua saham mega-kapitalisasi, Samsung Electronics dan SK Hynix, menjadi motor penggerak utama. Saham Samsung yang tercatat di bursa Korea melesat hampir 10 persen. Kabar ini dipicu oleh laporan Yonhap yang menyebutkan perusahaan mempertimbangkan pembelian kembali saham senilai hampir 90 triliun won, atau setara USD58,38 miliar. “Perusahaan tersebut mempertimbangkan untuk membeli kembali saham guna mendanai kompensasi karyawan berbasis saham yang terkait dengan kinerja tahun 2026,” demikian mengutip pengajuan peraturan perusahaan, sebagaimana dilaporkan Reuters. Belum ada rincian lebih lanjut, termasuk waktu atau besaran pasti pembelian kembali, yang telah diputuskan. Sementara itu, saham SK Hynix di bursa Korea naik sekitar satu persen. Perusahaan mengumumkan rencana pencatatan American Depositary Shares (ADS) di Nasdaq dengan simbol ticker “SKHY.” Meski jumlah ADS belum diungkapkan, dewan direksi telah memutuskan untuk menawarkan maksimal 17,79 juta saham. Berdasarkan harga penutupan Selasa, nilai pencatatan ini diperkirakan mencapai USD29,40 miliar. Jika terealisasi, ini akan menjadi penjualan saham terbesar kedua setelah penawaran umum perdana SpaceX awal bulan ini.

Saham Teknologi AS Gagal Ikuti Momentum Asia

Sayangnya, momentum positif dari Asia tidak mampu menular ke Wall Street. Kehati-hatian investor menjelang rilis hasil kuartalan Micron Technology setelah penutupan pasar membuat sektor teknologi kembali tertekan. Sektor Teknologi S&P 500 berakhir 0,6 persen lebih rendah. Indeks Semikonduktor Philadelphia, yang menjadi barometer utama saham chip, turun 0,2 persen. Padahal sehari sebelumnya, indeks ini telah merosot hampir delapan persen. Saham Micron sendiri melemah 0,4 persen menjelang laporannya. Ekspektasi pasar sangat tinggi, dan semua perhatian tertuju pada komentar perusahaan tentang prospek pasar memori.

Harga Minyak Anjlok, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Berubah

Di luar hiruk-pikuk sektor teknologi, harga minyak mentah dunia kembali ambles pada Rabu. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September sempat menyentuh level terendah sejak sehari sebelum dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Penutupan efektif Selat Hormuz yang terjadi sejak saat itu sempat menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Akibatnya, harga minyak melonjak dan memicu guncangan inflasi global. Pelaku pasar pun bereaksi dengan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, penurunan harga minyak yang cepat belakangan ini mengubah arah ekspektasi tersebut. Pada Rabu, taruhan terhadap kenaikan suku bunga kembali berkurang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun ikut tertekan. Perhatian investor kini beralih ke data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti bulan Mei yang akan dirilis pada Kamis. Indeks harga PCE secara luas dianggap sebagai tolok ukur inflasi favorit The Fed. Data ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar