PARADAPOS.COM - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengumumkan bahwa empat penyandang disabilitas dinyatakan lolos seleksi Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Mereka kini mengikuti program yang dirancang untuk mencetak calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa seleksi SPPI tidak berfokus pada kemampuan fisik semata.
Fokus pada Karakter, Bukan Fisik
Kepala Pusat Komponen Cadangan (Kapus Komcad) Kemenhan, Brigjen TNI Hengki Yuda Setiawan, menjelaskan bahwa diterimanya peserta disabilitas merupakan bukti nyata dari komitmen inklusivitas program. Ia menyebutkan bahwa porsi tes fisik sejak awal memang tidak menjadi prioritas utama.
"Sehingga porsi (fisik) sejak awal itu porsinya tidak berat. Bahkan kami sampaikan di sini, dalam proses rekrutmen juga saudara-saudara kita yang disabilitas juga kita terima. Ada yang lulus, ada empat saudara-saudara kita yang disabilitas," ungkap Hengki dalam konferensi pers di Gedung Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, seluruh rangkaian pelatihan bagi peserta SPPI telah disusun secara terukur. Tujuan akhir program ini bukanlah mencetak prajurit militer, melainkan membentuk individu yang memiliki disiplin tinggi, integritas kuat, dan etos kerja yang baik.
"Artinya terukur adalah awal kita memang ini bukan untuk menjadi militer, tetapi adik-adik ini disiapkan untuk memiliki disiplin, integritas, dan juga etos kerja," tegasnya.
Evaluasi di Tengah Duka
Pernyataan tersebut muncul di tengah proses evaluasi penyelenggaraan pelatihan dasar militer (latsarmil) SPPI. Evaluasi ini dilakukan setelah terjadinya musibah yang menimpa lima orang peserta.
Kelima peserta yang meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Ramadani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematian mereka bervariasi. Mulai dari henti jantung (cardiac arrest), heat stroke, tuberkulosis paru aktif, hingga pneumonia yang disertai komplikasi medis.
Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan risiko dan pengawasan ketat dalam setiap tahapan program, terutama yang melibatkan aktivitas fisik dan tekanan tinggi. Kemenhan pun terus melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh peserta.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Semarak Lomba 17-An Menyambut HUT ke-81 RI, Panjat Pinang di Manggarai Laris Manis
Polisi Kerahkan Water Cannon Selamatkan Ratusan Hektare Sawah di Sidrap dari Kekeringan
IHSG Berbalik Melemah ke 6.346 pada Sesi Awal, Investor Cermati Review MSCI dan Geopolitik Timur Tengah
21 Rumah di Bengkulu Ludes Terbakar, Akses Jalan Sempit Hambat Pemadaman