PARADAPOS.COM - Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap Iran pada Kamis, 9 Juli 2026, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan konflik jika Teheran tidak menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Serangan ini terjadi di tengah prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu serangan balasan terbesar sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni lalu. Iran menargetkan sekutu AS, yakni Kuwait dan Qatar, serta menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania. Ketegangan ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh bisa runtuh, sementara harga minyak sempat melonjak sebelum kembali stabil.
Serangan Balasan Iran dan Target yang Disasar
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim telah menembakkan sepuluh rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania, yang diketahui digunakan oleh angkatan udara AS. Sirene berbunyi setidaknya tiga kali di Bahrain, lokasi markas armada kelima Angkatan Laut AS. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan atau korban jiwa di Yordania maupun kawasan Teluk.
Di sisi lain, pejabat Iran melaporkan bahwa serangan AS juga menyasar area di sekitar satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil mereka di Provinsi Bushehr. Badan pengawas nuklir PBB sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan di wilayah tersebut dapat menimbulkan bahaya nyata bagi keamanan nuklir.
"Beberapa daerah di Provinsi Bushehr menjadi sasaran hari ini, termasuk perimeter pembangkit listrik tenaga nuklir, pangkalan militer di kota Choghadak, dan dermaga perikanan di selatan provinsi," ujar Ehsan Jahanian, wakil gubernur Bushehr. Ia menambahkan bahwa belum ada laporan korban jiwa sejauh ini, seperti dikutip dari laporan media asing, Jumat 10 Juli 2026.
Ancaman Trump dan Respons Militer AS
Serangan udara AS terjadi setelah Trump menyatakan bahwa MoU dengan Iran "berakhir" akibat serangan Teheran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Melalui akun media sosialnya, Truth Social, Trump mengunggah video ledakan di Iran dan menuliskan ancaman keras.
“Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” tulis Trump. Beberapa jam sebelumnya, ia sempat berjanji bahwa serangan tidak akan berlangsung lama dan akan berjalan “sangat cepat”.
Militer AS mengonfirmasi telah menyerang sekitar 90 target di Iran. Rekaman yang dirilis menunjukkan serangan terhadap peluncur rudal dan landasan pacu. Pihak Pentagon menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam "mengancam kebebasan navigasi" di Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi titik transit bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Prosesi Pemakaman di Tengah Ketegangan
Serangan itu terjadi saat Iran bersiap memakamkan Khamenei di kota kelahirannya, Mashhad. Suasana keamanan sangat ketat; sebuah jet tempur bahkan mengawal pesawat yang membawa peti mati mendiang pemimpin. Kerumunan warga berkumpul, beberapa di antaranya membawa spanduk yang menjanjikan pembalasan terhadap AS.
Menurut seorang pejabat Irak, lebih dari sepuluh juta orang ikut serta dalam prosesi pemakaman di Irak. Sementara itu, ribuan orang lainnya berkumpul di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, dalam sebuah upacara yang digelar oleh Hizbullah pada Rabu malam. Tidak ada tanda-tanda kehadiran putra mendiang ayatollah, Mojtaba Khamenei, yang kini menjadi pemimpin tertinggi Iran. Ia dilaporkan terluka dalam serangkaian serangan yang sama yang menewaskan ayahnya dan sejak itu hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis.
Kekhawatiran Gencatan Senjata dan Dampak Ekonomi
Komentar Trump dan baku tembak terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata dapat gagal. Kesenjangan yang signifikan masih ada antara kedua negara, terutama menyangkut kendali Iran atas Selat Hormuz serta inspeksi fasilitas nuklir. Meskipun serangan balasan telah terjadi sejak MoU ditandatangani, intensitas serangan pada hari Kamis adalah yang paling tinggi dalam beberapa minggu terakhir. Harga minyak sempat melonjak sebelum akhirnya pulih setelah situasi kembali tenang.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga angkat bicara. Ia menyatakan bahwa negaranya siap melanjutkan kampanye militer terhadap Iran jika diperlukan, dan mengancam akan melakukannya "dengan kekuatan yang lebih besar". Pernyataan ini menambah lapisan kompleksitas pada situasi yang sudah sangat tegang di kawasan Timur Tengah.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Tiga Bupati dalam Dua Bulan, Pakar Soroti Lemahnya Pencegahan Korupsi
BMKG: Suhu Jakarta Tembus 34 Derajat pada Kamis, Warga Diimbau Waspada
Erdogan Beri Hadiah Revolver Aktif ke Pemimpin NATO, Sejumlah Delegasi Kaget
Presiden Prabowo Targetkan Bangun PLTS 100 GW dalam Dua Tahun