DLH Bandung: Sampah Campur Musuh Terbesar Pengelolaan, Pemilahan dari Rumah Kunci Optimalkan Teknologi RDF

- Minggu, 19 Juli 2026 | 03:25 WIB
DLH Bandung: Sampah Campur Musuh Terbesar Pengelolaan, Pemilahan dari Rumah Kunci Optimalkan Teknologi RDF
PARADAPOS.COM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menegaskan bahwa pemilahan sampah sejak dari sumber rumah tangga merupakan langkah fundamental untuk mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan. Langkah ini dinilai krusial, terutama dalam mengoptimalkan teknologi pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF) yang tengah dikembangkan dengan pendampingan Bank Dunia. Kepala Bidang DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, menyebut sampah campur sebagai "musuh terbesar" karena mempersulit proses pengolahan lebih lanjut, baik untuk daur ulang maupun konversi energi.

Pemilahan Sampah: Kunci Efektivitas Pengelolaan

Abdul Wahid menjelaskan bahwa persoalan terbesar yang dihadapi pihaknya adalah ketika proses pengangkutan masih menerima sampah dalam kondisi tercampur. Ia menekankan bahwa sampah yang telah dipilah sejak awal akan jauh lebih mudah dikelola. “Persoalan terbesar kami di DLH itu adalah ketika pengangkutan pun masih diterima sampah campur. Sebetulnya musuh terbesar kami itu adalah sampah campur,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa sampah yang sudah terpilah dapat dimanfaatkan kembali atau diolah menjadi sumber energi. Hal ini menjadi sangat relevan dengan pengembangan mesin RDF yang membutuhkan bahan baku dengan spesifikasi tertentu. “Mesin RDF itu kalau sampah campur seperti ini tidak mungkin dilakukan,” ujarnya tegas.

Tantangan Teknologi RDF dan Kesiapan Regional

DLH Kabupaten Bandung saat ini tengah mengembangkan pemanfaatan mesin RDF. Teknologi ini memerlukan pasokan sampah anorganik kering yang sudah terpilah dari awal agar dapat beroperasi secara optimal. Persiapan ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap pengelolaan sampah regional ke depan, termasuk kesiapan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Legok Nangka yang masih dalam proses pembangunan. “Sampah-sampah yang diperlukan untuk kebutuhan itu sebetulnya sampah anorganik kering yang memang sudah terpilah dari awal,” jelas Abdul Wahid.

Data Timbulan Sampah dan Potensi Residu

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Komposisinya didominasi sampah organik yang mencapai sekitar 50 persen, disusul sampah plastik sekitar 17 persen. Dari total volume tersebut, DLH memperkirakan sekitar 20 persen atau setara 320 ton per hari merupakan residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Namun, Abdul Wahid optimistis bahwa angka residu ini bisa ditekan. “Dari sampah yang ada, 20 persen pasti itu residu. Dan residu itu apabila dari awal sudah terkelola juga akan bisa dimanfaatkan,” tuturnya. Ia mencontohkan, sampah organik yang dikelola melalui program Rumah Tempa dapat diolah menjadi bahan penutup (cover) dalam proses pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir. Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan pemilahan yang baik, hampir seluruh komponen sampah memiliki nilai guna.

Harapan untuk Kesadaran Kolektif

DLH Kabupaten Bandung berharap masyarakat dapat membangun kesadaran bersama dengan pemerintah. Target utamanya sederhana namun berdampak besar: memastikan sampah yang keluar dari rumah tangga sudah dalam keadaan terpilah. Dengan demikian, seluruh rantai pengelolaan sampah—dari hulu ke hilir—dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar