PARADAPOS.COM - FIFA dikabarkan akan mengevaluasi dan berpotensi menjatuhkan sanksi kepada pemain dan pelatih yang melontarkan kritik terhadap kepemimpinan wasit selama Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil setelah turnamen berakhir, menyusul sejumlah pernyataan keras dari beberapa tim yang menilai keputusan wasit merugikan mereka. Proses disipliner akan mengacu pada Kode Disiplin FIFA serta laporan resmi pertandingan.
Kritik Tajam dari Swiss dan Mesir
Suasana di Piala Dunia 2026 memang tak sepenuhnya mulus. Kritik paling tajam terhadap kinerja wasit datang dari kubu Swiss dan Mesir. Kedua tim merasa dirugikan saat berhadapan dengan Argentina di fase gugur.
Bek Swiss, Manuel Akanji, secara terbuka meluapkan kekecewaannya setelah timnya tersingkir di babak perempat final. Ia tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya.
“Kalau wasit melawan Anda, pertandingan akan menjadi sangat sulit. Setiap aksi diving dan pelanggaran pemain Argentina dibiarkan begitu saja,” ujar Akanji usai laga kontra Argentina.
Pernyataan serupa juga disampaikan penyerang Mesir, Mostafa Ziko. Ia bahkan menuding turnamen tersebut telah diatur untuk menguntungkan Lionel Messi dan timnas Argentina.
Collina Bela Integritas Wasit
Tuduhan dari pihak Swiss dan Mesir tak luput dari respons Pierluigi Collina, Kepala Komite Wasit FIFA. Dengan nada tegas, ia menekankan pentingnya menjaga integritas perangkat pertandingan.
“Tidak seorang pun boleh mempertanyakan integritas wasit Piala Dunia FIFA. Ketika tuduhan tak berdasar seperti itu dilontarkan, hal tersebut dapat memicu ancaman nyata terhadap para wasit maupun keluarga mereka di luar lapangan. Itu sama sekali tidak dapat dibenarkan,” kata Collina, dikutip dari The Athletic.
Deschamps dan Tuchel Juga Angkat Suara
Tak hanya soal tuduhan keberpihakan, standar kepemimpinan wasit juga menuai kritik dari pelatih tim-tim besar Eropa. Pelatih Prancis, Didier Deschamps, melontarkan sindiran tajam usai timnya tersingkir oleh Spanyol di babak semifinal.
Sementara itu, Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, juga melayangkan kritik keras setelah kemenangan The Three Lions atas Meksiko di babak 16 besar. Pertandingan tersebut diwarnai kartu merah Jarell Quansah. Tuchel menilai kepemimpinan wasit asal Australia, Alireza Faghani, tidak konsisten.
“Ini tidak cukup baik. Wasit bisa mengeluarkan tim mana pun kapan saja karena kepemimpinannya tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan,” kata Tuchel dalam konferensi pers.
Proses Disipliner Pasca-Turnamen
FIFA tampaknya belajar dari pengalaman Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, proses disipliner cenderung ditunda hingga turnamen selesai agar tidak mengganggu jalannya kompetisi. Pola yang sama kemungkinan besar akan diterapkan lagi.
Apabila proses disipliner dilakukan, keputusan akan mengacu pada ketentuan dalam Kode Disiplin FIFA serta laporan resmi pertandingan yang disusun oleh perangkat pertandingan dan pengawas laga. FIFA kabarnya akan menyerahkan seluruh proses penilaian kepada Komite Disiplin sebelum memutuskan ada atau tidaknya pelanggaran.
Jika melihat praktik di kompetisi domestik seperti Liga Inggris, komentar yang dianggap menyerang integritas atau profesionalisme wasit bisa berujung pada denda atau larangan mendampingi tim.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pakar Hukum Soroti Perlakuan Berbeda dalam Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Road to MotoGP Mandalika 2026 Resmi Dimulai, Dua Pembalap Nasional Sambangi Penggemar di Jakarta
VinFast Buka 20 Dealer Motor Listrik di Indonesia pada Juli 2026
KemenPPPA Kawal Pemulihan Dua Anak Korban Kekerasan Seksual yang Hamil di Malang