PARADAPOS.COM - JAKARTA — Upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka selalu memiliki satu sosok kunci yang mencuri perhatian: komandan upacara. Sosok ini, yang lazimnya berasal dari jajaran perwira menengah TNI atau Polri, bertugas memimpin jalannya pasukan pengibar bendera pada 17 Agustus pagi, dan kembali memimpin pasukan pada upacara penurunan bendera di sore harinya. Seleksinya pun berlangsung ketat dan melibatkan serangkaian ujian nasional, mulai dari postur, suara, hingga aspek psikologi dan kepemimpinan.
Menariknya, di balik tegasnya aba-aba di lapangan, terdapat proses panjang yang jarang diketahui publik. Proses ini tidak dimulai dari Istana, melainkan dari tingkat kewilayahan. Para calon komandan harus melewati tahapan seleksi yang berlapis sebelum akhirnya berdiri tegap di hadapan Presiden dan ribuan undangan.
Seleksi Ketat dari Garnisun Tetap
Mayjen TNI Muhammad Imam Gogor Agnie Aditya, yang pernah merasakan langsung pengalaman memimpin upacara pada 2020, menjelaskan bahwa semuanya berawal dari Garnisun Tetap (Gartap). Institusi tersebut mengirimkan surat telegram kepada masing-masing angkatan—Darat, Laut, dan Udara—untuk menunjuk wakilnya mengikuti seleksi.
“Awalnya dimulai dari Gartap (Garnisun Tetap). Mereka mengeluarkan surat telegram kepada masing-masing Angkatan: Darat, Laut, Udara untuk mengirimkan wakilnya untuk mengikuti seleksi,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dikutip pada Senin (17/8/2026).
Proses seleksi itu, lanjutnya, tidak main-main. Para peserta diuji kemampuan baris-berbarisnya, ketahanan fisik, hingga kesehatan secara menyeluruh. Namun, yang tak kalah penting adalah wawancara kepemimpinan untuk menilai kapasitas mental dan jiwa komando seorang perwira.
Pengalaman Langsung di Lapangan
Gogor sendiri bukan nama asing di lingkungan Paspampres. Saat terpilih sebagai komandan upacara HUT ke-75 Kemerdekaan RI pada 2020, ia masih berpangkat kolonel infanteri dan menjabat sebagai Asisten Operasi Paspampres (Asops Paspampres). Baginya, memimpin ribuan personel di hadapan Kepala Negara adalah kebanggaan tersendiri, tetapi juga tanggung jawab yang menuntut presisi tinggi.
Kini, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, tersebut telah naik pangkat menjadi mayor jenderal dan dipercaya memimpin SMA Taruna Nusantara. Pengalamannya itu menjadi bukti bahwa posisi komandan upacara kerap menjadi batu loncatan bagi karier perwira-perwira terbaik bangsa.
Tradisi Panjang Sejak 1950
Sejarah mencatat, tradisi upacara 17 Agustus di Istana Merdeka bukanlah hal yang baru. Perhelatan ini dimulai sejak era Presiden Soekarno pada 1950, tepat setelah kedaulatan penuh Indonesia diakui dan ibu kota kembali berpindah dari Yogyakarta ke Jakarta.
“Sejak itu pula, Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950,” tulis laman Kementerian Sekretariat Negara.
Dari tahun ke tahun, tradisi ini terus dijaga. Meski zaman berganti dan teknologi semakin maju, esensi upacara tetap sama: menghormati jasa para pahlawan dan menanamkan disiplin serta cinta tanah air kepada generasi penerus. Komandan upacara, dengan segala seleksi ketat yang dijalaninya, adalah salah satu garda terdepan dalam menjaga kelancaran dan kekhidmatan acara sakral tersebut.
Artikel Terkait
Rekor MURI: 1.708 Pohon Ditanam di IKN dalam Aksi Merdeka Bersama Alam
MDMC dan Lazizmu Aktifkan Pos Pelayanan untuk Warga Terdampak Gempa Flores di Manggarai Timur
Pemerintah Siapkan Live Streaming untuk Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Ini Jadwal Lengkapnya
Jakarta Bersiap ke HUT ke-81 RI: Lomba Tarik Bus hingga Rekayasa Lalu Lintas Warnai Ibu Kota