Rencana Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi untuk mengubah logo partai dengan menghapus siluet wajah Joko Widodo dinilai sebagai strategi politik agar diterima dalam koalisi Prabowo Subianto. Analis politik Erizal dari ABC Riset & Consulting menyebut langkah ini sebagai "akal-akalan" yang terlambat.
Menurut Erizal, Prabowo Subianto tidak mudah terkecoh dengan manuver politik Projo dan Budi Arie. Kunjungan Projo ke rumah Jokowi di Solo sebelum Kongres III mengindikasikan kemungkinan adanya koordinasi antara Projo dengan mantan presiden tersebut.
Erizal menegaskan bahwa timing perubahan logo Projo tidak tepat. Seharusnya, penghapusan gambar Jokowi dilakukan setelah pelantikan Prabowo-Gibran, penetapan KPU, atau minimal selama masa kampanye Pilpres. Keterlambatan ini menunjukkan Projo tidak cepat membaca situasi politik terkini.
Budi Arie juga dinilai terlambat memahami sinyal politik Prabowo yang pernah mempertanyakan afiliasinya dengan PSI atau Gerindra. Kini, peluang Budi Arie untuk kembali menjadi menteri dianggap tertutup setelah reshuffle kabinet dan kunjungannya ke Jokowi.
Perubahan logo Projo yang menghapus wajah Jokowi menjadi sorotan publik dalam dinamika koalisi politik Indonesia. Isu ini memperlihatkan kompleksitas relasi antara organisasi pendukung dengan figur politik yang didukungnya.
Artikel Terkait
Jokowi Bekerja Mati-Matian untuk PSI: Analisis Motif Politik dan Agenda Dinasti Keluarga
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Tanggapi Kritik Haji Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab