Analis: PSI Perlu Koalisi Strategis untuk Usung Gibran di Pilpres 2029

- Selasa, 24 Februari 2026 | 09:50 WIB
Analis: PSI Perlu Koalisi Strategis untuk Usung Gibran di Pilpres 2029

PARADAPOS.COM - Analisis politik terkini menyoroti potensi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai kendaraan politik bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk maju dalam Pilpres 2029. Pengamat menilai, meski didukung mantan Presiden Joko Widodo, peluang PSI mengusung Gibran secara mandiri menghadapi Presiden petahana Prabowo Subianto dinilai sangat kecil, sehingga membangun koalisi strategis menjadi sebuah keharusan.

Kendala Infrastruktur Politik PSI

Efriza, pengamat politik dari Citra Institute, memandang bahwa kesiapan PSI untuk tampil sendiri masih sangat terbatas. Tantangan tersebut mencakup basis elektoral yang belum kuat dan infrastruktur politik yang belum memadai untuk menghadapi pertarungan tingkat nasional.

"Ditengarai kesiapan PSI untuk mengusung Gibran Rakabuming Raka secara mandiri masih sangat terbatas secara elektoral dan infrastruktur politik," ungkapnya dalam keterangan kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.

Ancaman Presidential Threshold dan Perlunya Koalisi

Lebih lanjut, Efriza menyoroti kemungkinan tetap dipertahankannya ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold). Kebijakan ini, jika diterapkan, dapat menjadi penghalang signifikan bagi PSI yang basis kursinya di parlemen masih minim.

"Melihat kemungkinan ambang batas pencalonan presiden masih dipertahankan, dengan minimnya basis kursi PSI, dengan PSI yang tidak lagi amat diperhitungkan oleh partai-partai lain, jelas bahwa PSI sulit untuk sendirian mengusung Gibran," jelasnya.

Dia menegaskan bahwa menghadapi petahana seperti Prabowo, yang elektabilitasnya dinilai terus menguat, tanpa dukungan koalisi yang solid akan menjadi upaya yang sia-sia. "Jika tanpa adanya koalisi strategis yang lebih besar, memungkinkan akan percuma mengusung Gibran, jika yang dilawan adalah petahana Presiden Prabowo yang diyakini semakin populer dan elektabilitas semakin menanjak tinggi," sambung Efriza.

Nilai Tawar dan Skenario Realistis

Meski demikian, akademisi Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) ini tidak menampik bahwa PSI masih memiliki nilai tawar tertentu di panggung politik. Modal dukungan dari Joko Widodo dan figur Gibran dapat menjadi magnet untuk merangkul partai-partai lain membentuk blok penantang.

Namun, jalan menuju koalisi yang efektif tidaklah mudah. Efriza menekankan perlunya strategi komunikasi yang cermat untuk mengelola persepsi publik. "Oleh karena itu, skenario realistisnya, PSI harus mampu membangun aliansi, bukan mengandalkan kekuatan mandiri, oleh sebab itu PSI dan Jokowi semestinya menghindari publik semakin jenuh terhadap Jokowi dan keluarganya, ini hal utama yang patut dicari solusinya," demikian ia menambahkan.

Analisis ini menggarisbawahi bahwa dinamika politik menuju 2029 akan sangat ditentukan oleh kemampuan PSI dalam merajut aliansi, sekaligus mengelola warisan politik dan citra yang melekat pada pendukung utamanya.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar