Dino Patti Djalal Desak Prabowo Kurangi Frekuensi Perjalanan ke Luar Negeri

- Minggu, 31 Mei 2026 | 01:25 WIB
Dino Patti Djalal Desak Prabowo Kurangi Frekuensi Perjalanan ke Luar Negeri

PARADAPOS.COM - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi frekuensi perjalanan dinas ke luar negeri. Seruan ini disampaikan Dino, yang juga menjabat sebagai Founder and Chairman of Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dengan alasan besarnya anggaran negara yang terkuras dan keresahan publik yang mulai terasa. Dalam pernyataannya, Dino menegaskan bahwa ia menyampaikan kritik ini sebagai bentuk tanggung jawab moral, terutama setelah menerima penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Prabowo.

Suasana di Istana Negara beberapa pekan terakhir memang diwarnai dengan hiruk-pikuk agenda kenegaraan yang padat. Namun, di luar tembok istana, suara kegelisahan justru mulai terdengar dari para pengamat dan praktisi hubungan internasional. Dino Patti Djalal, yang pernah duduk sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, menjadi salah satu yang paling vokal.

Frekuensi Perjalanan yang Dinilai Tak Lazim

Dalam perhitungan yang dilakukan oleh tim FPCI, Dino mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo tercatat sebagai kepala negara dengan intensitas perjalanan luar negeri tertinggi di dunia sejak dilantik. “Dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan data yang cukup mengejutkan. Sekitar satu dari enam hari masa kepresidenan Prabowo dihabiskan di luar negeri. Angka ini, menurut Dino, sudah melampaui batas kewajaran dan memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat. “Dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya,” ujarnya.

Biaya Perjalanan yang Membengkak

Persoalan tidak hanya berhenti pada frekuensi. Dino menyoroti besarnya biaya yang harus ditanggung negara untuk setiap kunjungan kepala negara. Ia merinci, pengeluaran tersebut mencakup berbagai komponen, mulai dari biaya tim pendahulu, transportasi udara, akomodasi, logistik, konsumsi, hingga protokoler, pengamanan, dan uang harian bagi seluruh delegasi serta perangkat pendamping.

“Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” tegasnya lagi. Angka yang fantastis ini, menurut Dino, perlu menjadi bahan evaluasi serius di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

Harapan dari Hati Nurani Rakyat

“Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan keluar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” kata Dino dalam pernyataannya yang dikutip di Instagram pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Ia menekankan bahwa apa yang disampaikannya bukanlah sekadar opini pribadi, melainkan cerminan dari perasaan kebanyakan rakyat. “Apa yang saya katakan di sini adalah penyampaian perasaan kebanyakan rakyat yang murni dari nurani mereka. Silahkan cek, dalam suasana yang serba prihatin dan was-was akibat gejolak dunia rakyat Indonesia tidak lagi terpukau dengan kemegahan protokoler dalam dunia diplomasi. Saya yakin sekali ini,” tuturnya.

Dino berharap Presiden Prabowo dapat mengevaluasi intensitas kunjungan luar negeri dan lebih mempertimbangkan aspirasi publik yang mempertanyakan efektivitas serta besarnya anggaran yang digunakan. “Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri,” tandasnya.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar